Ikuti Program Tadarus di Group WhatsApp Penjaga Tradisi Sunnah, dengan periode setiap 15 hari sekali. Bergabung

Biografi KH. Muhammad Ali Manshur Shiddiq Basyaiban (Penyusun Sholawat Badar) Banyuwangi

Biografi KH. M. Ali Manshur (Pencetus Sholawat Badar Mengalahkan Himne PKI Genjer-Genjer)
Biografi KH. Muhammad Ali Manshur Shiddiq Basyaiban (Penyusun Sholawat Badar) Banyuwangi

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menganugerahkan almarhum KH Ali Manshur Siddiq dengan penghargaan Jer Basuki Mawa Beya saat acara haul ke-51 kiai tersebut di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Jawa Timur, pada Jumat malam, 3 Septermber 2021. Kiai Ali diberi penghargaan karena jasanya menggubah Salawat Badar yang saat ini dikenal luas di Indonesia, bahkan dunia.

Mengutip Laduni.id, Kiai Ali Manshur Siddiq adalah putra pasangan KH Manshur bin KH Shiddiq-Sofiyah binti KH Basyar yang lahir di Jember pada 23 Maret 1921. Kakek Kiai Ali Manshur, KH Siddiq, adalah ulama besar yang melahirkan banyak ulama besar di kemudian hari, seperti KH Mahfudz Siddiq, KH Ahmad Siddiq, dan KH Abdul Hamid atau Mbah Hamid Pasuruan.

Silahkan baca biografi serta riwayat KH. M. Ali Mansyur selengkapnya di bawah ini.

Riwayat Hidup dan Keluarga

Lahir

KH. Muhammad Shiddiq lahir tahun 1453 H (1854 M) di pedukuhan Punjulsari Desa Waru Gunung Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang Jawa Tengah. Lokasi pedukuhan Punjulsari perkebunan dan hutan sehingga beliau adalah Arek Ndeso. Menurut Garis nasab yang dicatat KH. Achmad Qusyairi bin KH Muhammad Shiddiq dan catatan KH. Abdul Halim bin KH Muhammad Shiddiq, menyebutkan Mbah Shiddiq keturunan kyai-kyai agung yang sambung nasab kepada Rosulullah Muhammad SAW.

Riwayat Keluarga

Pernikahan Pertama

KH. Muhammad Shiddiq menikah pertama pada tahun 1874 dgn Nyai Siti Masmunah alias Nyai Hj Maimunah binti Wirjodikromo wafat pada hari Rabu 24 jumadil ula 1358 (1939) dan dimakamkan dipuladak lasem, bersama beliau dikaruniai anak sebagai berikut :
  1. Siti Masruah (wafat kecil)
  2. KH. Mansur ,makam diTurbah jember yg menurunkan anak diantaranya : KH. Ali Mansyur makam di Maibit Rengel Tuban (Pencipta shalawat badar)
  3. Nyai Hj. Roikhanah makam dilasem yg menurunkan anak diantaranya KH. Abdul Hamid waliyullah yang dimakamkan di majid jami' pasuruan.
  4. KH. AHMAD QUSYAIRI ulama penulis sejak usia muda dimakamkan di masjid jami' Pasuruan
  5. Asiyah (wafat kecil)
  6. Abdul Karim (wafat kecil)
  7. Muhammad Hasan alias KH. Machmud makam di turbah jember yg menurunkan diantaranya KH. Abd hamid wijaya jakarta (pendiri Ansor dimakamkan diturbah jember) serta KH. Shodiq machmud SH jember pendiri PP. Al jauhar dan STAIN jember.

Pernikahan Kedua

KH. Muhammad Shiddiq menikah kedua dengan Nyai Siti Aminah binti KH. Abdus shamad dan beliau wafat pada tahun 1961 makam di jubung rambupuji tetapi tidak dikarunia anak.

Pernikahan Ketiga

KH. Muhammad Shiddiq lalu menikah dengan Nyai siti Maryam alias Nyai. Hj Zaqiah binti Yusuf curahmalang jember wafat saat menunaikan ibadah haji dan dimakamkan di laut merah dikarunia anak sebagai berikut :
  1. KH. Machfudz Shiddiq makam diturbah jember mantan ketua Umum PBNU 1930-1945 dan pemikir modernis NU.
  2. Abdullah (wafat kecil)
  3. KH. Abdul Halim makam di Turbah jember beliau adalah muballigh terkenal pendiri pesantren ASHRI
  4. NYai Hj. Siti Zainab makam di turbah jember beliau adalah pendiri pesantren putri zainab shiddiq dan diantaranya anak beliau adalah Drs. KH. Yusuf Muhammad LML, muballigh politisi terkenal dan pendiri pesantren Darul shalah .
  5. Khodijah (wafat kecil)
  6. Muhammad (wafat kecil)
  7. Achmad Muhammad (wafat kecil)
  8. Abdullah alias KH. Abdullah.
  9. Achmad Muhammad Hasan alias KH. Achmad shiddiq makam di aulia tambak mojo kab. Kediri Rois 'Aam PBNU periode 1984 hingga 1991 dan perintis majlis dzikrul ghafilin serta semaan Al-Qur'an yg jamaahnya ribuan diantaran anak beliau adalah KH. Farid wajdi

Pernikahan Keempat

KH. Muhammad Shiddiq menikah keempat dengan Nyai Hj. Siti Mardliyah binti KH. Muhammad Imam (wafat malam ahad legi tanggal 19 Dzulhijjah 1356 atau 19 Februari 1938 dan dimakamkan diturbah jember dikarunia anak :
  1. Abdur Rochim (wafat kecil)
  2. Ummu Athiah (wafat kecil)
  3. Muchammad Soleh (wafat kecil)
  4. Sakinah (wafat kecil)
  5. Maskunah (wafat kecil)
  6. Muchammad (wafat kecil)
  7. Siti Zulaikho alias Nyai Hj Zulaikho, istri KH Dzofir salam pendiri pesantren al fattah dan pendiri beberapa sekolah islam dijember yaitu SMPI, MAN 1 , MAN II dan STAIN dan UIJ
  8. Asiyah (wafat kecil)
  9. Shofiyah(wafat kecil)

Pernikahan Kelima

KH. Muhammad Shiddiq menikah kelima dgn Nyai siti Fatmah binti KH. Khiro (wafat diambulu tahun1962) tetapi tidak dikarunia anak (Sumber Majlis Ta'lim Al Qusyairi)

Wafat

Makam KH. Muhammad Ali Manshur Shiddiq Basyaiban (Penyusun Sholawat Badar) Banyuwangi
Makam KH. Muhammad Ali Manshur Shiddiq Basyaiban (Penyusun Sholawat Badar) Banyuwangi

Beliau wafat pada hari Ahad Pahing jam 17 40 tanggal 2 Romadlon 1533H (9 Desember 1934 M) pada usia +80 tahun. Saat jenazah, disemayamkan di ndalem Talangsari, datanglah 11 orang yang menawarkan tanahnva sebagai makam beliau. Sebelas orang itu antara lain:
  1. H. Ilyas, Gebang
  2. Sadinatun, Gebang
  3. Sa’id, Gebang
  4. Riynah, Gebang
  5. Samiroh, asal Bulu Tuban
  6. Amir, asal Bulu Tuban
  7. Sakiman, asal Bulu Tuban
  8. KH. Yusuf, asal Bulu Tuban (mertua Kyai Shiddiq)
  9. H. Anwar, Jatian Pakusari
  10. H. Abdul Hamid, Rowo – Wirowongso.
  11. H Samsul Arifin, Talangsari.

Namun agar adil maka akhirnva dilotre/diundi sebanyak 3 kali. Ternyata undian jatuh pada tanah H. Samsul Arifin di Turbah – Condro. Ribuan orang melayat Mbah Shiddiq menuju peristirahatannva di turbah Condro Jember. Hingga sekarang, banyak kaum muslimin ziarah di maqam Kyai Shiddiq. Para penziarah selalu membaca Al-qur’an. Tahlil dan bertawassul pada beliau. Kyai Shiddiq bagaikan “mutiara”, yang menurunkan banyak mutiara, menyinari kegelapan kota Jember.

Monumen bertuliskan shalawat badar di makam KH Ali Mansur di Tuban, Jawa Timur (foto: laduni.id)
Monumen bertuliskan shalawat badar di makam KH Ali Mansur di Tuban, Jawa Timur (foto: laduni.id)

Sanad Ilmu dan Pendidikan

Mengembara Menuntut Ilmu

KH. Muhammad Shiddiq mengeyam ngaji pada beberapa ulama terkenal yaitu
  1. KH. Abdul Aziz Lasem Rembang,
  2. KH. Sholeh Langitan Tuban,
  3. KH. Sholeh Darat Semarang,
  4. KH. Cholil Bangkalan,
  5. KH. Ya'qub Panji Sidoarjo, dan
  6. KH. Abdurrahim Sepanjang Sidoarjo

Guru-Guru Beliau

Guru-guru beliau saat menuntut ilmu yaitu :
  1. KH. Abdul Aziz Lasem Rembang
  2. KH. Sholeh Langitan Tuban
  3. KH. Sholeh Darat Semarang
  4. KH. Cholil Bangkalan
  5. KH. Ya'kub Panji Sidoarjo
  6. KH. Abdurrahim Sepanjang Sidoarjo

Mendirikan dan Mengasuh Pesantren

Setelah pengembaraan mencari ilmunya, KH. Muhammad Shiddiq mendirikan pesantren sebagai pengabdian ilmunya di masyarakat, mula-mula di Lasem. Kemudian sekitar tahun 1884, beliau dalam usia 30 tahun hijrah ke Jember dan mendirikan pesantren dikampung Gebang Jember.

Kemudian pada tahun 1918, beliau berusia 64 tahun pindah k ekampung Talangsari Jember dan mendirikan pesantren yang kemudian sekarang dikenal sebagai Pesantren Ash-Shiddiqi Putra (PPI ASHTRA) di jalan KH Shiddiq 201 Jember yang diasuh oleh Gus H Firjaun bin KH. Achmad Shiddiq. Pesantren di Gebang kemudian dilanjutkan oleh putranya (KH Machmud) dan kemudian dipindah ke kampung Tegal Boto yang sekarang dikenal sebagai Pesantren Al-Jauhar yang diasuh oleh (alm) Prof. DR. KH Sahilun A. Nasir M.PdI.

Melalui pesantren inilah yang kemudian menjadi cikal bakal berkembangnya islam di Jember melalui strategi pengkaderan santri dan mendirikan masjid-masjid sebanyak +15 masjid yang tersebar diberbagai wilayah Jember, termasuk Masjid Jamik Al-Baitul Amin dijantung kota Jember. Terbukti, para santrinya tersebut yang kemudian menjadi kyai/muballigh/da’i yang menyebar-luaskan pengajaran islam dipelosok Jember melalui masjid-masjid yang telah dirintis beliau tersebut.

Penerus Perjuangan

Anak-anak Beliau

  1. KH. Mansur
  2. KH. Achmad Qusyairi
  3. KH Machmud
  4. KH. Mahfudz Shiddiq
  5. KH. Abdul Halim Shiddiq
  6. KH. Abdullah bin KH. Umar
  7. KH. Muhammad bin KH. Hasyim
  8. KH. Dhofir Salam.

Murid-murid Beliau

Murid-murid Beliau adalah para santri pesantren Al-Jauhar

Organisasi dan Karier

Jasa-jasa Beliau

Dalam sejarah berdirinya NU, peran KH. Muhammad Shiddiq menjadi salah satu Ulama yang dimintai restu oleh KH. Hasyim Asy’ari. Dalam sejarah yang jarang diketahui, ketika Kiai Hasyim Asy’ari akan mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama, beliau juga meminta restu terlebih dahulu kepada KH. Muhammad Shiddiq .

Singkat cerita, Kiai Kholil Bangkalan merestui berdirinya NU melalui KH. As’ad Syamsul Arifin. Namun ketika menjelang berdirinya NU, ulama masyhur dari pulau Madura itu wafat pada 1925. Lalu Kiai Hasyim Asy’ari mengutus KH. Wahab Hasbullah untuk menemui dua orang alim dan wali Allah, yaitu Kiai Yasin danKH. Muhammad Shiddiq . Kala itu Kiai Wahab berusia 30 tahun, didampingi Masjkur yang waktu itu berusia 23 tahun.

Alasan KH. Hasyim mengutus Kiai Wahab ditemani rekannya tak lain karena Kiai Hasyim ingin meminta restu kedua ulama sepuh yang termasuk santri senior yang dahulu juga pernah nyantri kepada Kiai Kholil. Sebelum mengambil keputusan, seperti biasa KH. Muhammad Shiddiq sholat istikharah terlebih dahulu.

Waktu itu Kiai Wahab dan Masjkur sembari menunggu keputusan KH. Muhammad Shiddiq , keduanya bermalam di Jember. Keesokan harinya, KH. Muhammad Shiddiq menyampaikan keputusannya bahwa beliau merestui berdirinya NU.

Karena usiaKH. Muhammad Shiddiq waktu itu sepuh (70 tahun lebih), lalu beliau menunjuk salah satu putranya untuk aktif di NU, yaitu KH. Mahfudz Shiddiq (1904-1944). Sedangkan Kiai Yasin mengutus menantunya bernama KH. Abdullah Ubaid (pelopor GP Anshor).

Karier Beliau

Pengasuh pesantren Ash-Shiddiqi Putra (PPI ASHTRA)

Akhlaq dan Kisah Teladan

Dijaga Allah dari Harta Haram

Suatu waktu, KH. Muhammad Shiddiq akan berdagang kain sarung, songkok, dan lain-lain ke Arjasa. Nampaknya Kyai terlambat di stasiun kereta api, sehingga kereta yang pagi sudah berangkat. Menurut keterangan kepala stasiun, kereta berikutnya baru akan berangkat jam 10 siang. Ketika ditunggu kereta berikutnya, KH. Muhammad Shiddiq bertemu seorang Penghulu yang rumahnya di depan stasiun. Penghulu tersebut menawarkan jasa, agar KH. Muhammad Shiddiq berkenan menunggu kereta di rumahnya saja.

Menjelang jam 10.00 KH. Muhammad Shiddiq minta izin untuk pamit,dan tanpa diduga ternyata Penghulu tersebut memberi salam tempel satu rupiah (serupiah saat itu, kira-kira sama nilainya dengan Rp 100. 000, sekarang/thn 2007). “Lho, kok sompean. shodagah satu rupiah pada saya. Maka saya nggak jadi ke Arjasa. Lha Wong niat saya ke Arjasa tersebut untuk mencari untung satu rupiah ini”, kata Mbah Shiddiq pada Penghulu itu, kemudian beliau pulang.

Namun demikian, sebelum pulang, uang itu dihabiskan untuk belanja urusan dapur, karena memang Kyai Shiddiq sendirilah yang selalu berbelanja urusan dapur ke pasar. bukan Nyai. Tiba di ndalem, beliau tertidur karena kepayahan Dalam tidumya, beliau bermimpi bertamu ke rumah Penghulu tadi. Di sana beliau disuguhi hidangan babi. Ketika bangun. kagetlah Kyai Shiddiq dan cepat-cepat memerintahkan santri untuk membuang semua “hasil belanja dapur tersebut”

Nampaknya, KH. Muhammad Shiddiq terus dijaga oleh Allah SWT dari makanan basil perbuatan haram karena sifat wiro’i beliau. Wiro’i adalah sikap yang selalu menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tercela, seperti makruh dan subhat (tidak jelas, apakah dibolehkan oleh agama atau tidak), terlebih lagi haram yang jelas dilarang. KH. Muhammad Shiddiq tidak berkenan mengajar kitab menggunakan papan tulis, sebab ayat-ayat Al-Quran yang ditulis papan yang kemudian dihapus berjatuhan. Ini kan sama dengan menelantarkan lembaran Mushaf yang robek

Mengharamkan diri dari Rokok

Demikian pula dengan merokok, KH. Muhammad Shiddiq kurang senang jika ada orang/tamu apalagi santri ataupun anaknya yang merokok di hadapan beliau. Kyai Mahfudz Shiddiq pernah merelakan sak celananya bolong terbakar, karena menyimpan rokok yang sedang menyala, tatkala Kyai Shiddiq menemuinya. KH. Muhammad Shiddiq memang kurang senang ada yang merokok, ketika masih ngaji pada Kyai Abdurrohim, Sepanjang Sidoarjo.

Sebagaimana keblasaannya di pondok, KH. Muhammad Shiddiq selalu mengisi jeding Kyai Rohim pada pagi buta. Suatu hari, selesai mengisi jeding, KH. Muhammad Shiddiq pergi ke sungai sambil merokok klobot. Sedang asyik merokok, menyebabkan ketinggalan Sholat berjama’ah Subuh. KH. Muhammad Shiddiq akhirnya bersembunyi takut kena marah Kyai Rohim karena tidak berjama’ah.

Sejak peristiwa itulah, KH. Muhammad Shiddiq berjanji menghindari merokok. “Tak ada barang yang melebihi kejelekan merokok. Demi Allah aku mengharamkan diriku merokok” katanya.

Refrensi

https://alif.id/read/amaz/kh-muhammad-shiddiq-jember-pintu-lahirnya-para-pembesar-nu-b236530p/
Baca juga :

Posting Komentar

© 2011 - elzeno.id ‧ All rights reserved. Developed by House Shine