Ikuti Program Tadarus di Group WhatsApp Penjaga Tradisi Sunnah, dengan periode setiap 15 hari sekali. Bergabung

Kisah Pembelahan Kedua Dada Rasulullah SAW

Kisah Kedua Kalinya Rasulullah SAW Dibelah Dadanya oleh Malaikat
Kisah Kedua Kalinya Rasulullah SAW Dibelah Dadanya oleh Malaikat

Pembelahan Dada Rasululullah SAW Pada Malam Isra’

Para ulama hadits dan sejarawan Islam menyebutkan bahwa dada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam kembali dibelah pada malam Isra’. Dada beliau dicuci dengan air Zamzam kemudian dipenuhi dengan hikmah dan keimanan. Setelah itu beliau melakukan Isra’ dan Mi’raj bersama malaikat Jibril dengan mengendarai kuda tunggangan bernama Buraq.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan peristiwa itu sebagai berikut:
عَنْ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ، عَنْ مَالِكِ بْنِ صَعْصَعَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” بَيْنَا أَنَا عِنْدَ البَيْتِ بَيْنَ النَّائِمِ، وَاليَقْظَانِ – وَذَكَرَ: يَعْنِي رَجُلًا بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ -، فَأُتِيتُ بِطَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ، مُلِئَ حِكْمَةً وَإِيمَانًا، فَشُقَّ مِنَ النَّحْرِ إِلَى مَرَاقِّ البَطْنِ، ثُمَّ غُسِلَ البَطْنُ بِمَاءِ زَمْزَمَ، ثُمَّ مُلِئَ حِكْمَةً وَإِيمَانًا، وَأُتِيتُ بِدَابَّةٍ أَبْيَضَ، دُونَ البَغْلِ وَفَوْقَ الحِمَارِ: البُرَاقُ، فَانْطَلَقْتُ مَعَ جِبْرِيلَ حَتَّى أَتَيْنَا السَّمَاءَ الدُّنْيَا،
Dari Anas bin Malik dari Malik bin Sha’sha’ah radhiyallahu ‘anhuma berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Ketika aku sedang berada di Baitullah (Masjidil Haram) dalam keadaan antara tidur dan bangun, maka dibawakan kepadaku sebuah wadah yang terbuat dari emas, penuh berisikan hikmah dan keimanan. Maka dibelah dadaku dari leher sampai bagian bawah perutku, kemudian perutku dicuci dengan air zamzam, lantas dipenuhi dengan hikmah dan keimanan. Setelah itu dibawa kepadaku sebuah kendaraan berwarna putih, yang lebih pendek dari bighal namun lebih tinggi dari keledai, yaitu kendaraan Buraq. Maka aku berangkat bersama malaikat Jibril sampai ke langit dunia….” (HR. Bukhari no. 3207 dan Muslim no. 164, dengan lafal Bukhari)

Dalam riwayat lain, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menuturkan:
لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ مَسْجِدِ الكَعْبَةِ، أَنَّهُ جَاءَهُ ثَلاَثَةُ نَفَرٍ قَبْلَ أَنْ يُوحَى إِلَيْهِ وَهُوَ نَائِمٌ فِي المَسْجِدِ الحَرَامِ، فَقَالَ أَوَّلُهُمْ: أَيُّهُمْ هُوَ؟ فَقَالَ أَوْسَطُهُمْ: هُوَ خَيْرُهُمْ، فَقَالَ آخِرُهُمْ: خُذُوا خَيْرَهُمْ، فَكَانَتْ تِلْكَ اللَّيْلَةَ، فَلَمْ يَرَهُمْ حَتَّى أَتَوْهُ لَيْلَةً أُخْرَى، فِيمَا يَرَى قَلْبُهُ، وَتَنَامُ عَيْنُهُ وَلاَ يَنَامُ قَلْبُهُ، وَكَذَلِكَ الأَنْبِيَاءُ تَنَامُ أَعْيُنُهُمْ وَلاَ تَنَامُ قُلُوبُهُمْ، فَلَمْ يُكَلِّمُوهُ حَتَّى احْتَمَلُوهُ، فَوَضَعُوهُ عِنْدَ بِئْرِ زَمْزَمَ، فَتَوَلَّاهُ مِنْهُمْ جِبْرِيلُ، فَشَقَّ جِبْرِيلُ مَا بَيْنَ نَحْرِهِ إِلَى لَبَّتِهِ حَتَّى فَرَغَ مِنْ صَدْرِهِ وَجَوْفِهِ، فَغَسَلَهُ مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ بِيَدِهِ، حَتَّى أَنْقَى جَوْفَهُ، ثُمَّ أُتِيَ بِطَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ فِيهِ تَوْرٌ مِنْ ذَهَبٍ، مَحْشُوًّا إِيمَانًا وَحِكْمَةً، فَحَشَا بِهِ صَدْرَهُ وَلَغَادِيدَهُ – يَعْنِي عُرُوقَ حَلْقِهِ – ثُمَّ أَطْبَقَهُ ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا
“Awal mula malam Isra’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam dari Masjid Ka’bah adalah ada tiga orang (malaikat) yang datang kepada beliau sebelum beliau diberi wahyu, pada saat itu beliau sedang tidur di Masjidil Haram. Salah seorang (malaikat) itu bertanya, “Siapakah ia di antara mereka?” Orang (malaikat) kedua menjawab, “Ia adalah orang yang terbaik di antara mereka.” Orang (malaikat) ketiga berkata: “Bawalah orang yang terbaik di antara mereka!” Itulah kejadian malam itu. Beliau tidak melihat mereka sampai datang suatu malam, saat itu beliau dalam keadaan mata terpejam namun hati tidak tidur, dan hati para nabi tidak pernah tidur. Mereka tidak mengajaknya berbicara, karena mereka langsung mengangkatnya dan membaringkannya di dekat sumur Zamzam. Jibril sendiri yang mengurusnya langsung. Jibril membelah antara leher bagian atas sampai tempat kalung di leher bagian bawah, sampai selesai membelah dada dan hatinya. Jibril mencucinya dengan tangannya sendiri menggunakan air Zamzam, sehingga ia selesai membersihkan hatinya. Kemudian dibawakan sebuah wadah yang terbuat dari emas, padanya ada tempat air yang juga terbuat dari emas, yang dipenuhi dengan hikmah dan keimanan. Jibril lantas memenuhi dadanya dan urat-urat kerongkongannya dengan hikmah dan keimanan, baru setelah itu mengembalikannya seperti sedia kala. Setelah itu Jibril membawanya naik ke langit dunia…” (HR. Bukhari no. 7517 dan Muslim no. 162, dengan lafal Bukhari)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam mengalami pembelahan dada sebanyak dua kali seperti disebutkan oleh hadits-hadits shahih di atas. Sebagian ulama seperti imam Abu Nu’aim Al-Asbahani dalam Dalailun Nubuwwah dan syaikh Muhammad bin Muhammad Abu Syuhbah dalam As-Sirah An-Nabawiyah fi Dhau’il Qur’an was Sunnah bahkan berpendapat pembelahan dada tersebut berlangsung tiga kali, yaitu ditambah pembelahan dada pada saat beliau shallallahu ‘alaihi wa salam menerima wahyu yang pertama kali.

Hikmah apakah yang bisa kita petik dari peristiwa sejarah yang sangat penting ini?

Peristiwa pembelahan dada yang pertama. Berdasar hadits-hadits shahih, para ulama menyebutkan bahwa dalam hati setiap manusia terdapat bagian setan. Maksudnya adalah setan memiliki tempat untuk membisikkan, menaburkan dan menanamkan potensi kejahatan dan kemaksiatan ke dalam hati setiap manusia. Jika manusia lengah dan jauh dari perlindungan Allah, niscaya setan akan masuk ke dalam hatinya, menguasai hatinya, menyebar ke seluruh tubuhnya mengikuti aliran darahnya dan mengendalikan dirinya untuk menjadi seorang hamba Allah yang musyrik, atau kafir, atau murtad, atau munafik, atau fasik atau gemar berbuat maksiat.

Hati adalah raja dari seluruh anggota badan. Jika hati manusia telah dikuasai dan dikendalikan sepenuhnya oleh setan, maka otomatis anggota badan manusia tersebut hanya akan menjadi alat setan untuk melaksanakan perintah-perintah setan dan melakukan pembangkangan terhadap Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa salam. Manusia tersebut akan menjadi hamba setan dan budak hawa nafsu belaka, bukan menjadi hamba Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala memuliakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam di atas seluruh hamba-Nya dengan membuang jauh-jauh ‘bagian setan’ tersebut dari hati beliau. Hati beliau dibersihkan oleh malaikat dengan air Zamzam dan dipenuhi dengan akhlak-akhlak mulia, kebijaksanaan, cahaya, dan ilmu. Dengan itu sejak kecil beliau tumbuh menjadi sosok yang berakhlak mulia, terjaga dari pengaruh setan, menjalani kehidupan dengan kemuliaan dan kesungguhan, jauh dari kelalaian dan kesia-siaan.

Peristiwa pembelahan dada yang kedua. Malam Isra’ dan Mi’raj adalah peristiwa agung yang hanya dikaruniakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam semata. Dalam peristiwa Isra’, beliau melakukan perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidi Aqsha. Masjidil Haram adalah masjid yang pertama kali dibangun di muka bumi, oleh kekasih Allah nabi Ibrahim dan putranya nabi Ismail ‘alaihis salam. Masjidil Aqsha adalah masjid kedua yang dibangun di muka bumi, oleh nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan kemudian direnovasi oleh nabi Sulaiman. Di Masjidil Aqsha, beliau bertemu dengan para nabi dan rasul terdahulu. Beliau didaulat sebagai pemimpin atas seluruh nabi dan rasul terdahulu, di mana beliau mengimami mereka dalam shalat berjama’ah.

Adapun perjalanan Mi’raj adalah perjalanan beliau ke langit yang tujuh dan ke Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah Ta’ala, berbicara dengan Allah secara langsung dan menerima langsung perintah-Nya dari balik tabir cahaya, tanpa melalui perantaraan malaikat Jibril. Pembicaraan secara langsung dengan Allah Ta’ala di Sidratul Muntaha di atas langit yang ketujuh, merupakan keistimewaan yang hanya dikaruniakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam semata. Allah Ta’ala pun ‘hanya’ berbicara kepada nabi Musa secara langsung saat ia berada di bumi, di lembah Thuwa.

Dalam perjalanan Mi’raj itu pula, kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam diperlihatkan kehidupan alam akhirat, surga dengan penghuni-penghuninya dan neraka dengan penghuni-penghuninya. Peristiwa itu adalah peristiwa luar biasa yang sangat menggetarkan jiwa dan raga beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam. Semua kejadian yang luar biasa, tanda-tanda kebesaran Allah dan bukti-bukti nyata kekuasaan-Nya dipaparkan demikian detail kepada beliau. Semua hal itu menuntut adanya kejernihan jiwa, kelapangan dada dan keteguhan hati beliau. Itulah hikmah disucikannya hati beliau dengan air Zamzam dan dipenuhi dengan keimanan dan kebijaksanaan.

Kita adalah manusia biasa yang penuh dengan salah dan dosa. Jiwa kita kotor, hati kita keruh dan tidak kokoh, mudah goyah oleh dorongan hawa nafsu, bujukan setan, tekanan keadaan dan faktor-faktor lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam mengalami dua kali pembelahan dada dan ‘pengisian’ hati, karena di pundak beliau terdapat tugas yang begitu berat untuk membimbing seluruh umat manusia dan jin ke jalan keselamatan di dunia dan akhirat.

Sebagai umatnya, kita juga memiliki tanggung jawab, meski tidak sebesar tanggung jawab beliau, karena kita ‘tinggal’ melanjutkan apa yang telah beliau tunaikan. Ada tanggung jawab membimbing dan menyelamatkan diri pribadi kita. Ada tanggung jawab membimbing dan menyelamatkan keluarga dan kerabat kita. Ada tanggung jawab membimbing dan menyelamatkan tetangga, kawan, dan masyarakat kita. Ada tanggung jawab membimbing dan menyelamatkan bangsa kita. Ada tanggung jawab membimbing dan menyelamatkan masyarakat dunia.

Dari kejahiliyahan kepada Islam. Dari kekufuran kepada keimanan. Dari kesyirikan kepada tauhid. Dari kemungkaran kepada kema’rufan. Dari kebid’ahan kepada kesunnahan. Dari kemaksiatan kepada ketaatan. Dari kebodohan kepada pengetahuan. Dari kehidupan yang nista kepada kehidupan yang mulia.

Di dunia dan akhirat

Kita memiliki tanggung jawab tersebut. Dan tanggung jawab tersebut hanya bisa kita emban jika hati kita dibersihkan dan jiwa kita disucikan.

Kita yakin sepenuhnya bahwa tidak akan ada malaikat yang akan datang kepada kita, membelah dada kita, mengeluarkan kotoran hati kita, mencucinya dan menggisinya dengan keimanan, kebijaksana dan cahaya petunjuk.

Kita sendirilah yang harus bertindak sebagai ‘malaikat’ yang membedah dada kita, mengeluarkan kotoran isi hati kita, mencucinya dan dan mengisinya dengan keimanan, kebijaksana dan cahaya petunjuk.

Sejarah dua kali pembedahan dada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam telah mengajarkan sebuah pesan penting kepada kita semua: “Jadilah dokter bedah untuk kesucian jiwa Anda sendiri demi menjadi hamba Allah yang sejati!”

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan surga yang luasnya seperti luasnya langit-langit dan bumi, yang telah dipersiapkan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran [3]: 133)

Wallahu a’lam bish shawab.
Baca juga :

Posting Komentar

© 2011 - elzeno.id ‧ All rights reserved. Developed by House Shine