Program Tadarus Grup WhatsApp PTS, periode setiap 15 hari. GABUNG
{{ date }}
{{ time }}
Sudah SHOLAT kah Anda?

Sejarah Bubur Asyure Khas Turki Peninggalan Nabi Nuh as dan dibawa Walisongo

Sejarah Filosofi Bubur Asyure Nabi Nuh as. Khas Turki yang dikenalkan oleh Walisongo di Indonesia merupakan pertama kalinya masakan di dunia
Sejarah Filosofi Bubur Asyure Nabi Nuh as. Khas Turki yang dikenalkan oleh Walisongo di Indonesia merupakan pertama kalinya masakan di dunia
Sejarah Filosofi Bubur Asyure Nabi Nuh as. Khas Turki yang dikenalkan oleh Walisongo di Indonesia merupakan pertama kalinya masakan di dunia

Inilah makanan pertama kali di dunia saat Nabi Nuh as. dan kaumnya selamat dari banjir yang sangat dahsyat, nama makanan jenis bubur ini adalah Asyure.

Bubur asura mungkin terdengar tidak asing di telinga orang Indonesia. Sebagian masyarakat Indonesia di berbagai daerah biasanya memasak bubur ini di Bulan Muharram yang bertepatan dengan tahun baru islam. Biasanya bubur ini dimasak sebagai peringatan Hari Asyura yang merupakan salah satu hari penting bagi umat islam di seluruh dunia.


Daftar isi artikel:

Makanan bubur ini menjadi salah satu tradisi dalam rangka peringatan Hari Asuro (10 Muharrom). Peristiwa apa saja pada tanggal 10 Muharrom sehingga seluruh umat islam merayakannya?

Sejarah Asyure (Aşure)

Sesaat setelah melewati musibah banjir bandang yang luar biasa, pastinya seluruh makhluk yang ada di dalam kapal itu merasa lapar. Akhirnya Nabi Nuh as. memerintahkan untuk memasak sesuatu dengan sisa makanan yang masih tersedia. Akhirnya terciptalah aşure (bubur asyura) yang dikenal rakyat Turki sampai sekarang ini dan aşure (bubur asyura) ala Turki ini disebut-sebut sebagai dessert (makanan penutup) tertua di dunia.


Dalam Al-Qur'an Surat Hud ayat 44, menyebutkan:
وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ ۖ وَقِيلَ بُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Dan difirmankan: "Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah," dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: "Binasalah orang-orang yang zalim".

Ketika Bahtera Nabi Nuh as. mendarat di Turki tepatnya di sebuah gunung yang bernama Judi (baca: Jud, sekarang bernama Gunung Ararat) di wilayah Anatolia Timur, Kota Are (Armenia) Turki. Nabi Nuh as. dan pengikutnya serta seluruh penumpang bahtera dari seluruh kalangan makhluk hidup merasa kelaparan, sedangkan seluruh dunia ini tidak ada apa-apa.

Kemudian Nabi Nuh as. berkata kepada pengikutnya dari golongan manusia dan hewan:
“Kumpulkanlah semua perbekalan yang ada pada diri kalian!”. Lalu beliau menghampiri (mereka) dan berkata: “(ambillah) kacang fuul (semacam kedelai) ini sekepal, dan ‘adas (biji-bijian) ini sekepal, dan ini dengan beras, dan ini dengan gandum dan ini dengan jelai (sejenis tumbuhan yang bijinya/buahnya keras dibuat tasbih)”.
Setelah terkumpul sejumlah 7 jenis bahan makanan dari biji-bijian. Kemudian Nabi Nuh berkata: “Masaklah semua itu oleh kalian!, niscaya kalian akan senang dalam keadaan selamat”.

Setelah dimasak atas kekuasaan Alloh SWT, keluarlah Mukjizat Nabi Nuh as. dengan menyentuh makanan tersebut sehingga makanan tersebut menjadi banyak bahkan mampu mencukupi seluruh makhluk saat itu.

Dari peristiwa ini maka kaum muslimin (terbiasa) memasak biji-bijian.

Dan kejadian di atas merupakan praktik memasak yang pertama kali terjadi di atas muka bumi setelah kejadian topan. Dan juga peristiwa itu dijadikan (inspirasi) sebagai kebiasan setiap hari ‘asyuro.
بَقِي مَعكُمْ من الزَّاد فجَاء هَذَا بكف من الباقلاء وَهُوَ الفول وَهَذَا بكف من العدس وَهَذَا بأرز وَهَذَا بشعير وَهَذَا بحنطة فَقَالَ اطبخوه جَمِيعًا فقد هنئتم بالسلامة فَمن ذَلِك اتخذ الْمُسلمُونَ طَعَام الْحُبُوب وَكَانَ ذَلِك أول طَعَام طبخ على وَجه الأَرْض بعد الطوفان وَاتخذ ذَلِك عَادَة فِي يَوْم عَاشُورَاء

Peringatan Hari Aşure (Turki)

Untuk memperingati atas selamatnya Nabi Nuh as. dan pengikutnya, tepatnya pada tanggal 10 Bulan Muharom atau Hari Asyuro, oleh masyarakat setempat diadakan semacam Peringatan Hari Besar dengan membuat Bubur Asyure, yang hingga saat ini umat islam di seluruh dunia juga memperingati hari tersebut dengan istilah Hari Asyuro dan dengan tradisi membuat Bubur Asyuro, yang di Indonesia sendiri diperkenalkan oleh Walisongo.

Dibawa Walisongo

Dalam penyebaran dan perkembangan agama islam di seluruh dunia, Sultan-Sultan Ottoman (Kekaisaran Turki Usmani) mengirimkan para ulama ke seluruh bagian negara di dunia, termasuk salah satunya ke Indonesia yang dikenal dengan istilah Walisongo, dan membawa tradisi lokal Turki Ustmani ke Nusantara, sehingga muncullah istilah jawa "Jenang Suro", orang Madura menyebutnya dengan nama "Tajin Sorah" dengan bahan-bahan lokal wilayah masing-masing yang berbeda menyesuaikan wilayah tersebut.

Perlu kalian ketahui bahwa jumlah wali songo tidak hanya 9 (sembilan wali), akan tetapi dikarenakan kondisi Pulau Jawa khususnya pada saat itu sangat tidak mudah untuk dimasuki Agama Islam, sehingga utusan kekaisaran Turki Ustmani berlangsung hingga 6 periode yang setiap periode berjumlah 9 wali.


Kisah Nabi Nuh as. Dalam Al-Qur'an

Surat Hud ayat 41

وَقَالَ ارْكَبُوْا فِيْهَا بِسْمِ اللّٰهِ مَجْرٰ۪ىهَا وَمُرْسٰىهَا ۗاِنَّ رَبِّيْ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. (QS. Hud: 41).
Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan maksud ayat tersebut yakni dengan menyebut nama Allah, ia (Nuh) dapat berlayar di atas air, dan dengan menyebut nama Allah pula ia dapat berlabuh di akhir perjalanannya.

Surat Hud ayat 42

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ
Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir". (QS. Hud: 42).
Maksudnya, bahtera itu berlayar membawa mereka di atas permukaan air yang telah menggenangi semua daratan di bumi, yang ketinggiannya sampai menutupi puncak-puncak gunung yang tertinggi, dan lebih tinggi lima belas hasta darinya.

Menurut pendapat lain, tinggi banjir besar itu mencapai delapan puluh mil. Bahtera Nabi Nuh itu berlayar di atas permukaan air dengan seizin Allah dan dengan pengawasan, pemeliharaan, penjagaan, dan karuniaNya.

Seperti yang disebutkan di dalam Surat Al-Haqqoh ayat 11-12 berikut ini.

Surat Al-Haqqoh ayat 11-12

إِنَّا لَمَّا طَغَى الْمَاءُ حَمَلْنَاكُمْ فِي الْجَارِيَةِ. لِنَجْعَلَهَا لَكُمْ تَذْكِرَةً وَتَعِيَهَا أُذُنٌ وَاعِيَةٌ
Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung), Kami bawa (nenek moyang) kalian ke dalam bahtera, agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kalian dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. (Al-Haqqah: 11-12)

Surat Al-Qomar ayat 13-15

وَحَمَلْنَاهُ عَلَىٰ ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ. تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا جَزَاءً لِمَنْ كَانَ كُفِرَ. وَلَقَدْ تَرَكْنَاهَا آيَةً فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku, yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh). Dan sesungguhnya telah Kami jadikan kapal itu sebagai pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Al-Qamar: 13-15).

Mengenai lama masa banjir dibumi ini Ulama' berbeda pendapat, sebagian ulama' berpendapat : "Banjir itu menggenang di atas bumi selama 6 bulan" Sebagian ulama' lagi berpendapat bahwa banjir itu menggenangi bumi selama 150 hari (5 bulan). Setelah hampir enam bulan, perahu Nabi Nuh berlabuh tepat pada Hari Asyuro, yaitu tanggal 10 dari Bulan Muharram. "Kemudian berpuasalah Nabi Nuh dihari itu sebagai ungkapan syukur kepada Allah. Nabi Nuh juga memerintahkan semua penumpang untuk ikut menunaikan puasa sebagai tanda syukur atas kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah SWT. Para hewan semua juga ikut melakukan puasa.

Dalil Hadits Perintah Puasa Asyuro

Dalam sebuah hadits disebutkan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأُنَاسٍ مِنَ الْيَهُودِ، وَقَدْ صَامُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: مَا هَذَا الصَّوْمُ؟ قَالُوا: هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي نَجَّى اللَّهُ مُوسَى وَبَنِي إِسْرَائِيلَ مِنَ الْغَرَقِ، وَغَرِقَ فِيهِ فِرْعَوْنُ، وَهَذَا يَوْمٌ اسْتَوَتْ فِيهِ السَّفِينَةُ عَلَى الجُودِيّ، فِصَامَهُ نُوحٌ وَمُوسَى، عَلَيْهِمَا السَّلَامُ، شُكْرًا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى، وَأَحَقُّ بِصَوْمِ هَذَا الْيَوْمِ". فَصَامَ، وَقَالَ لِأَصْحَابِهِ: "مَنْ كَانَ أَصْبَحَ مِنْكُمْ صَائِمًا فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ، وَمَنْ كَانَ أَصَابَ من غَذاء أَهْلِهِ، فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ
Dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Nabi Saw. bersua dengan sejumlah orang Yahudi yang sedang melakukan puasa pada hari Asyura, maka Nabi Saw. bertanya, "Puasa apakah ini?" Mereka menjawab, "Hari ini adalah hari saat Allah menyelamatkan Musa dan Bani Israil dari tenggelam dan pada hari yang sama Fir'aun ditenggelamkan. Dan hari ini adalah hari saat bahtera (Nuh a.s.) berlabuh di atas Bukit Al-Judi. Maka Nuh dan Musa melakukan puasa pada hari ini sebagai ungkapan rasa syukurnya kepada Allah Swt." Maka Nabi Saw. bersabda: Aku lebih berhak terhadap Musa dan lebih berhak untuk melakukan puasa pada hari ini. Nabi Saw. melakukan puasa pada hari itu, dan beliau bersabda kepada para sahabatnya: Barang siapa yang berpagi hari di antara kalian dalam keadaan berpuasa, hendaklah ia melanjutkan puasanya. Dan barang siapa yang telah menyantap sebagian dari makanan keluarganya, maka hendaklah ia melanjutkan harinya dengan puasa.

Bukti Bubur Asyuro Warisan Nabi Nuh as

Menurut Kitab I'anatuth Tholibin

Tradisi membuat bubur Suro ini bila ditelusuri dalam sejumlah kitab klasik memiliki kemiripan dengan yang pernah dilakukan Nabi Nuh dan kaumnya. Keterangan ini bisa dilihat dalam kitab I’anah Thalibin karya Abu Bakr Syata al-Dimyati juz 2/267 disebutkan:
قَوْلُهُ: وَأَخْرَجَ نُوْحًا مِنَ السَّفِيْنَةِ وَذَلِكَ أَنَّ نُوْحًا - عَلَيْهِ السَّلَامُ - لَمَّا نَزَلَ مِنَ السَّفِيْنَةِ هُوَ وَمَنْ مَعَهُ: شَكَوْا اَلْجُوْعَ، وَقَدْ فَرَغَتْ أَزْوَادُهُمْ فَأَمَرَهُمْ أَنْ يَأْتُوْا بِفَضْلِ أَزْوَادِهِمْ، فَجَاءَ هَذَا بِكَفِّ حِنْطَةٍ، وَهَذَا بِكَفِّ عَدَسٍ، وَهَذَا بِكَفِّ فُوْلٍ، وَهَذَا بِكَفِّ حِمَّصٍ إِلَى أَنْ بَلَغَتْ سَبْعَ حُبُوْبٍ - وَكَانَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ - فَسَمَّى نُوْحٌ عَلَيْهَا وَطَبَخَهَا لَهُمْ، فَأَكَلُوْا جَمِيْعًا وَشَبِعُوْا، بِبَرَكَاتِ نُوْحٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ
Allah mengeluarkan Nabi Nuh dari perahu. Kisahnya sebagai berikut: sesungguhnya Nabi Nuh ketika berlabuh dan turun dari kapal, beliau bersama orang-orang yang menyertainya, mereka merasa lapar sedangkan perbekalan mereka sudah habis. Lalu Nabi Nuh memerintahkan pengikutnya untuk mengumpulkan sisa-sisa perbekalan mereka. Maka, secara serentak mereka mengumpulkan sisa-sisa perbekalannya; ada yang membawa dua genggam biji gandum, ada yang membawa biji adas, ada yang membawa biji kacang ful,ada yang membawa biji himmash (kacang putih), sehingga terkumpul 7 (tujuh) macam biji-bijian. Peristiwa tersebut terjadi pada hari Asyura. Selanjutnya Nabi Nuh membaca basmalah pada biji-bijian yang sudah terkumpul itu, lalu beliau memasaknya, setelah matang mereka menyantapnya bersama-sama sehingga semuanya kenyang dengan lantaran berkah Nabi Nuh.

Menurut Kitab Badai' al-Zuhur

Sedangkan keterangan dalam kitab Badai’ al-Zuhur karya Shaikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas al-Hanafy, halaman 64 disebutkan:
قال الثعلبي كان استواء السفينة علي جبل الجودي يوم عاشوراء وهو العاشر من المحرم فصامه نوح شكرا لله تعالي وامر من كان معه بالصيام في ذلك اليوم شكرا علي تلك النعمة . ويروي ان الطيور والوحوش والدواب جميعهم صاموا ذلك اليوم ثم ان نوح اخرج ما بقي معه من الزاد فجمع سبعة اصناف من الحبوب وهي البسلة والعدس والفول والحمص والقمح والشعير والارز فخلط بعضها في بعض وطبخها في ذلك اليوم فصارت الحبوب من ذلك اليوم سنة نوح عليه السلام وهي مستحبة
Imam Tsa'laby berkata, perahu Nabi Nuh mendarat sempurna di sebuah gunung tepat pada tanggal 10 muharam atau hari Asyuro, maka Nabi Nuh melakukan puasa pada hari itu dan memerintahkan kepada kaumnya yang ikut dalam perahunya untuk melakukan puasa pada hari asyuro sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah. Dan dikisahkan bahwa seluruh binatang dan hewan yang ikut dalam perahu Nabi Nuh juga melaksanakan puasa. Kemudian Nabi Nuh mengeluarkan sisa perbekalan selama terapung dalam kapal, memang tidak banyak sisa yang didapat, kemudian Nabi Nuh mengumpulkan sisa biji-bijian itu, ada tujuh macam jenis biji-bijian dan jumlahnya tidak banyak, kemudian disatukan dan dijadikan makanan. Selanjutnya biji-bijian yang dimakan pada hari itu, yakni 10 Muharram, menjadi kebiasaan Nabi Nuh dan disukai.

Mengacu dari keterangan redaksi di atas, maka tradisi yang berkembang di tengah masyarakat berkaitan dengan membuat bubur Suro itu ada landasannya. Tidak sembarangan melakukan. Sebab kisah yang berkaitan dengan Nabi Nuh as. ini juga disebutkan dalam kitab Nihayatuz Zain 196.

Wallahu A'lam.

Artikel Terkait:

Terima kasih telah membaca artikel kami yang berjudul: Sejarah Bubur Asyure Khas Turki Peninggalan Nabi Nuh as dan dibawa Walisongo, jangan lupa ikuti website kami dan silahkan bagikan artikel ini jika menurut Anda bermanfaat.

Memuat Info...

Posting Komentar

Persetujuan Cookie
Kami menyajikan cookie di situs ini untuk menganalisis lalu lintas, mengingat preferensi Anda, dan mengoptimalkan pengalaman Anda.
Koneksi Terputus!
Sepertinya ada yang salah dengan koneksi internet Anda. Harap sambungkan ke internet dan mulai menjelajah lagi.
AdBlock Terdeteksi!
Kami telah mendeteksi bahwa Anda menggunakan plugin adblocking di browser Anda.
Pendapatan yang kami peroleh dari iklan digunakan untuk mengelola situs web ini, kami meminta Anda untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar pengecualian di plugin adblocking Anda.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.