Ikuti Program Tadarus di Group WhatsApp Penjaga Tradisi Sunnah, dengan periode setiap 15 hari sekali. Bergabung

7 Makam yang Menjadi Agenda Ziarah Hari Jadi Wonosobo

Daftar Lokasi Makam yang Biasa Diziarahi saat Hari Jadi Wonosobo
Kabupaten Wonosobo berdiri 24 Juli 1825 sebagai kabupaten di bawah Kesultanan Yogyakarta seusai pertempuran dalam Perang Diponegoro. Kyai Moh. Ngampah, yang membantu Diponegoro, diangkat sebagai bupati pertama dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung (K.R.T.) Setjonegoro.

Setiap tanggal 24 Juli diperingati Hari Jadi Wonosobo. Ziarah dan tabur bunga ke makam pendiri serta tokoh dan Ulama Wonosobo sebagai rangkaian peringatan hari jadi Kabupaten Wonosobo, menjadi salah satu agenda rutin setiap tahunnya. Ada 7 makam yang menjadi peristirahatan terakhir para pendiri Wonosobo, diziarahi oleh Bupati, Wakil Bupati beserta segenap unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan jajaran Pejabat di lingkup Pemkab Wonosobo.

Makam KRT. Setjonegoro di Payaman, Magelang

Inilah Daftar 7 Makam Pendiri dan Ulama yang berpengaruh besar atas berdirinya Kabupaten Wonosobo ;
  1. Makam KRT. Setjonegoro di Payaman, Magelang,
  2. Makam Tumenggung Jogonegoro di Pakuncen, Selomerto,
  3. Makam Tumenggung Selomanik di Kaliwiro,
  4. Makam Bupati Mangunkusumo, di Ketinggring, Kecamatan Wonosobo.
  5. Makam KH. Muntaha di Desa Deroduwur, Mojotengah,
  6. KH. Asmorosufi di Sapuran, dan 
  7. Makam H. Abdul Fatah di Desa Tegalgot, Kepil.

Bupati Wonosobo (2016-2021), Eko Purnomo, S.E., MM., saat memimpin ziarah di makam KH. Muntaha di Desa Deroduwur Kecamatan Mojotengah, menyampaikan bahwa kegiatan ziarah makam tersebut merupakan tradisi tahunan menjelang digelarnya peringatan hari ulang tahun (HUT) Wonosobo. Selain untuk mendoakan arwah para pendiri, ziarah makam tersebut juga dimaksudkan untuk senantiasa mengingatkan generasi penerus, akan keberadaan makam-makam penting bagi wonosobo.

Acara ini juga merupakan salah satu wujud penghormatan atas jasa-jasa dan pengorbanan para pendahulu, sebab jika masyarakat menghormati para pendahulunya maka generasi di masa depan juga akan menghormati generasi saat ini.

Ziarah juga bisa diambil hikmah, sebagai generasi paling baru yang sedang dipercaya memimpin dan membangun Kabupaten Wonosobo, harus bisa mewujudkan cita-cita para pendahulu dalam membangun Wonosobo agar jauh lebih mulia dan bermartabat melalui cara-cara baru. Sebab generasi sekarang bisa hidup seperti ini karena usaha dan ikhtiar para pendahulu, sama halnya di masa depan, generasi penerus bisa menikmati Wonosobo yang lebih baik karena usaha dan ikhtiar bersama generasi sekarang.

Meski demikian, di hadapan rombongan peziarah, Bupati Eko Purnomo, S.E., MM. (2016-2021) meminta agar ziarah ini tidak hanya sebatas jadi kegiatan seremonial semata, melainkan harus benar-benar diresapi maknanya untuk menumbuhkan semangat dan motivasi dalam membangun Kabupaten Wonosobo ke depan. ”Kegiatan ini adalah kegiatan yang baik dan bermanfaat, kegiatan baik harus terus dilaksanakan,” pungkas Eko Purnomo.
Baca juga :

Posting Komentar

© 2011 - elzeno.id ‧ All rights reserved. Developed by House Shine