Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Bergabunglah di Grup WhatsApp PTS, ikuti Program Tadarus setiap periode 15 hari Bergabung

Penjelasan Hukum Sholat Baroah (Kafarot) di Jumat Akhir Ramadhan

Penjelasan Hukum Sholat Baroah (Kafarot) di Jumat Akhir Ramadhan
Sebentar lagi kita berada di penghujung bulan Ramadhan. Belakangan ini, seperti halnya dibahas tahun-tahun sebelumnya, muncul persoalan terkait tradisi yang dilakukan di waktu tersebut. Tepatnya pada hari Jumat terakhir, usai shalat Jumat, terdapat tradisi menjalankan shalat kafarat atau disebut sholat al-baro’ah.

Penjelasan Hukum Sholat Baroah (Kafarot) di Jumat Akhir Ramadhan

Shalat kafarat dilakukan sejumlah rakaat shalat fardlu. Lima kali waktu shalat (Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya’ dan Subuh) total 17 rakaat. Sebagian pihak setuju atas tradisi tersebut, sementara sebagian yang lain melarangnya. Shalat kafarat diniatkan untuk mengqadha shalat fardlu yang diragukan ditinggalkan atau yang tidak sah. Ada keterangan bahwa shalat kafarat ini dapat mengganti shalat yang ditinggalkan semasa hidupnya sampai 70 tahun dan dapat melengkapi kekurangan-kekurangan dalam shalat yang dilakukan disebabkan waswas atau lainnya.

Bagaimana hukum Islam memandang pelaksanaan shalat kafarat?

Terdapat diskusi panjang mengenai status hukum shalat kafarat. Mufti Hadlramaut Yaman, Syekh Fadl bin Abdurrahman mengumpulkan perbedaan pandangan para ulama dalam kitabnya, Kasyf al-Khafa’ wa al-Khilaf fi Hukmi Shalat al-Bara’ah min al-Ikhtilaf.

Ulama berbeda pandangan tentang hukum melakukan shalat kafarat, antara yang membolehkan dan mengharamkannya.

Yang Membolehkan Sholat Kafaroh

Pandangan yang membolehkan di antaranya karena pertimbangan sebagai berikut:

Pertama, bertendensi pada pendapat al-Qadli Husain yang membolehkan mengqadha shalat fardlu yang diragukan ditinggalkan. Pendapat tersebut sebagaimana keterangan berikuti ini:

ูุฑุน ) ู‚ุงู„ ุงู„ู‚ุงุถูŠ ู„ูˆ ู‚ุถู‰ ูุงุฆุชุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ุดูƒ ูุงู„ู…ุฑุฌูˆ ู…ู† ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฃู† ูŠุฌุจุฑ ุจู‡ุง ุฎู„ู„ุง ููŠ ุงู„ูุฑุงุฆุถ ุฃูˆ ูŠุญุณุจู‡ุง ู„ู‡ ู†ูู„ุง ูˆุณู…ุนุช ุจุนุถ ุฃุตุญุงุจ ุจู†ูŠ ุนุงุตู… ูŠู‚ูˆู„ : ุฅู†ู‡ ู‚ุถู‰ ุตู„ูˆุงุช ุนู…ุฑู‡ ูƒู„ู‡ุง ู…ุฑุฉ ، ูˆู‚ุฏ ุงุณุชุฃู†ู ู‚ุถุงุกู‡ุง ุซุงู†ูŠุง ุง ู‡ู€ ู‚ุงู„ ุงู„ุบุฒูŠ ูˆู‡ูŠ ูุงุฆุฏุฉ ุฌู„ูŠู„ุฉ ุนุฒูŠุฒุฉ ุนุฏูŠู…ุฉ ุงู„ู†ู‚ู„ ุง ู‡ู€ ุฅูŠุนุงุจ
“Cabangan permasalahan: al-Qadli Husain berkata, bila seseorang mengqadha shalat fardlu yang ditinggalkan secara ragu, maka yang diharapkan dari Allah shalat tersebut dapat mengganti kecacatan dalam shalat fardlu atau paling tidak dianggap sebagai shalat sunah. Saya mendengar bahwa sebagian ashabnya Bani Ashim berkata, bahwa ia mengqadha seluruh shalat seumur hidupnya satu kali dan memulai mengqadhanya untuk kedua kalinya. Al-Ghuzzi mengatakan, ini adalah faidah yang agung, yang jarang sekali dikutip oleh ulama.” (Syekh Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal, juz.2, halaman 27)

Dalam redaksi yang lain disampaikan:

ุฅู† ุงู„ุดูƒ ููŠ ุนุจุงุฏุฉ ุจุฏู†ูŠุฉ ุฃูˆ ู…ุงู„ูŠุฉ ูŠุฌูˆุฒ ุชุนู„ูŠู‚ ู†ูŠุฉ ู‚ุถุงุฆู‡ุง ุฅู† ูƒุงู† ุนู„ูŠู‡ ูˆุฅู„ุง ูุชุทูˆุน
“Keraguan dalam ibadah badan atau harta, boleh menggantungkan niat qadhanya, bila betul ada tanggungan maka statusnya wajib, bila tidak, maka berstatus sunah.” (Syekh Fadl bin Abdurrahman al-Tarimi al-Hadlrami, Kasyf al-Khafa’ wa al-Khilaf fi Hukmi Shalat al-Bara’ah min al-Ikhtilaf, halaman 4)

Kedua, tidak ada orang yang meyakini keabsahan shalat yang baru saja ia kerjakan, terlebih shalat yang dulu-dulu.

Ketiga, larangan shalat kafarat dikarenakan ada kekhawatiran shalat tersebut cukup untuk mengganti shalat yang ditinggalkan selama setahun, ketika kekhawatiran tersebut hilang, maka hukum haram hilang.

Keempat, mengikuti amaliyyah para pembesar ulama dan para wali Allah yang ahli makrifat billah, di antaranya Sayyidi Syekh Fakr al-Wujud Abu Bakr bin Salim, Habib Ahmad bin Hasan al-Athas, al-Imam Ahmad bin Zain al-Habsyi dan banyak lainnya. Shalat tersebut rutin dilakukan dan diimbau oleh para pembesar ulama di Yaman. Bahkan di masjid Zabid Yaman shalat kafarat ini rutin dilakukan secara berjamaah.

Mengikuti amaliyyah para wali dan ulama ‘รขrifin (ahli ma'rifat) tanpa diketahui dalil istinbathnya dari hadits Nabi, sudah cukup untuk menjadi hujjah membolehkan shalat kafarat ini. Syekh Abdul Wahhab al-Sya’rani dalam kitab Tanbih al-Mughtarrin, sebagaimana dikutip dalam Kasyf al-Khafa’ mengatakan:

ูˆู…ู† ุงู„ู‚ูˆู… ุฅุฐุง ู„ู… ูŠุฌุฏูˆุง ู„ุฐู„ูƒ ุงู„ุนู…ู„ ุฏู„ูŠู„ุง ู…ู† ุณู†ุฉ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุงู„ุซุงุจุชุฉ ููŠ ูƒุชุจ ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ ูŠุชูˆุฌู‡ูˆู† ุจู‚ู„ูˆุจู‡ู… ุฅู„ู‰ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูุฅุฐุง ุญุถุฑูˆุง ุจูŠู† ูŠุฏูŠู‡ ุณุฃู„ูˆู‡ ุนู† ุฐู„ูƒ ูˆุนู…ู„ูˆุง ุจู…ุง ู‚ุงู„ู‡ ู„ู‡ู… ูˆู„ูƒู† ู…ุซู„ ู‡ุฐุง ุฎุงุถ ุจุฃูƒุงุจุฑ ุงู„ุฑุฌุงู„
“Di antara kaum, apabila mereka tidak memiliki dalil dari sunah Nabi yang ditetapkan dalam kitab syari’ah, mereka menghadap hatinya kepada Rasul, bila sudah berhadapan dengan Nabi, mereka bertanya kepada beliau dan mengamalkan apa yang dikatakan Nabi, akan tetapi yang demikian ini khusus untuk para pembesar sufi.”

ูุฅู† ู‚ูŠู„ ูู‡ู„ ู„ุตุงุญุจ ู‡ุฐุง ุงู„ู…ู‚ุงู„ ุฃู† ูŠุฃู…ุฑ ุงู„ู†ุงุณ ุจู…ุง ุฃู…ุฑู‡ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุจูุนู„ู‡ ูˆู‚ูˆู„ู‡؟ ุงู„ุฌูˆุงุจ ู„ุง ูŠู†ุจุบูŠ ู„ู‡ ุฐู„ูƒ ู„ุฃู†ู‡ ุฃู…ุฑ ุฒุงุฆุฏ ุนู„ู‰ ุงู„ุณู†ุฉ ุงู„ุตุญูŠุญุฉ ุงู„ุซุงุจุชุฉ ู…ู† ุทุฑูŠู‚ ุงู„ู†ู‚ู„ ูˆู…ู† ุฃู…ุฑ ุงู„ู†ุงุณ ุจุดูŠุก ุฒุงุฆุฏ ุนู„ู‰ ู…ุง ุซุจุช ู…ู† ุทุฑูŠู‚ ุงู„ู†ู‚ู„ ูู‚ุฏ ูƒู„ู ุงู„ู†ุงุณ ุดุทุทุง ุงู„ู„ู‡ู… ุฅู„ุง ุฃู† ูŠุดุงุก ุฃุญุฏ ุฐู„ูƒ ูู„ุง ุญุฑุฌ ุนู„ูŠู‡ ูƒู…ุง ู‡ูˆ ุดุฃู† ู…ู‚ู„ุฏูŠ ุงู„ู…ุฐุงู‡ุจ ุงู„ู…ุณุชู†ุจุทุฉ ู…ู† ุงู„ูƒุชุงุจ ูˆุงู„ุณู†ุฉ ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู…
“Bila ditanya, apakah sufi yang mendapat amaliyyah dari Nabi boleh memerintahkan orang lain sebagaimana Nabi memerintahkan kepadanya? Jawabannya, tidak sebaiknya hal tersebut dilakukan, sebab merupakan perkara tambahan atas sunah shahih, barang siapa memerintahkan manusia perkara yang melebihi sunah Nabi yang dicetuskan berdasarkan riwayat yang sahih, maka ia telah memberi beban kerancauan kepada mereka. Kecuali bila ada orang yang dengan sukarela mengikutinya, maka tidak ada masalah, sebagaimana keadaan para pengikut mazhab-mazhab yang bersumber dari al-Quran dan hadits.” (Syekh Fadl bin Abdurrahman al-Tarimi al-Hadlrami, Kasyf al-Khafa’ wa al-Khilaf fi hukmi Shalat al-Bara’ah min al-Ikhtilaf, halaman 43)

Syekh Abdurrahman bin Syekh Ahmad Bawazir sebagaimana dikutip dalam Kasyf al-Khafa mengatakan:

ูˆู„ุง ุดูƒ ุฃู† ุงู„ุนุงุฑู ุจุงู„ู„ู‡ ูุฎุฑ ุงู„ูˆุฌูˆุฏ ุฃุจุง ุจูƒุฑ ุจู† ุณุงู„ู… ู…ู…ู† ูŠู‚ู„ุฏ ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุงู„ู…ุฐูƒูˆุฑุฉ ู„ุฃู† ุงู„ุนุงุฑู ู„ุง ูŠุชู‚ูŠุฏ ุจู…ุฐู‡ุจ ูƒู…ุง ููŠ ุงู„ุฅุจุฑูŠุฒ ู„ู„ุดูŠุฎ ุนุจุฏ ุงู„ุนุฒูŠุฒ ุงู„ุฏุจุงุบ ุจู„ ู‚ุงู„ ููŠู‡ ุฅู† ู…ุฐู‡ุจ ุงู„ูˆู„ูŠ ุงู„ุนุงุฑู ุจุงู„ู„ู‡ ุฃู‚ูˆู‰ ู…ู† ุงู„ู…ุฐุงู‡ุจ ุงู„ุฃุฑุจุนุฉ. ุงู†ุชู‡ู‰
“Tidak diragukan lagi bahwa al-Arif billah Fakr al-Wujud Syekh Abu Bakr bin Salim adalah termasuk tokoh yang mengikuti amaliyyah shalat kafarat/ baraah ini, sebab orang yang ahli makrifat tidak terikat dengan mazhab tertentu, seperti keterangan dalam kitab al-Ibriznya Syekh Abdul Aziz al-Dabbagh, bahkan beliau mengatakan, sesungguhnya mazhabnya wali yang al-Arif billah lebih kuat dibandingkan dengan mazhab empat.” (Syekh Fadl bin Abdurrahman al-Tarimi al-Hadlrami, Kasyf al-Khafa’ wa al-Khilaf fi Hukmi Shalat al-Bara’ah min al-Ikhtilaf, halaman 48)

Bagi Anda yang melaksanakan Sholat Kafaroh, silahkan baca :
Tata Cara Sholat Kafaroh

Yang Mengharamkan Sholat Kafaroh

Pandangan yang mengharamkan setidaknya karena berbagai pertimbangan berikut:

Pertama, tidak ada tuntunan yang jelas dari hadits Nabi atau kitab-kitab syari’ah, sehingga melakukannya tergolong isyra’u ma lam yusyra’ (mensyariatkan ibadah yang tidak disyari’atkan) atau ta’athi bi ‘ibadatin fasidah (melakukan ibadah yang rusak).

Kedua, pengkhususan shalat kafarat pada akhir Jumat bulan Ramadhan tidak memiliki dasar yang jelas dalam syari’at.

Ketiga, terdapat keterangan sharih dari pakar fikih otoritatif mazhab Syafi’i, Syekh Ibnu Hajar al-Haitami sebagai berikut:

ูˆุฃู‚ุจุญ ู…ู† ุฐู„ูƒ ู…ุง ุงุนุชูŠุฏ ููŠ ุจุนุถ ุงู„ุจู„ุงุฏ ู…ู† ุตู„ุงุฉ ุงู„ุฎู…ุณ ููŠ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฌู…ุนุฉ ุนู‚ุจ ุตู„ุงุชู‡ุง ุฒุงุนู…ูŠู† ุฃู†ู‡ุง ุชูƒูุฑ ุตู„ูˆุงุช ุงู„ุนุงู… ุฃูˆ ุงู„ุนู…ุฑ ุงู„ู…ุชุฑูˆูƒุฉ ูˆุฐู„ูƒ ุญุฑุงู… ุฃูˆ ูƒูุฑ ู„ูˆุฌูˆู‡ ู„ุง ุชุฎูู‰
“Yang lebih buruk dari itu adalah tradisi di sebagian daerah berupa shalat 5 waktu di jumat ini (jumat akhir Ramadhan) selepas menjalankan shalat jumat, mereka meyakini shalat tersebut dapat melebur dosa shalat-shalat yang ditinggalkan selama setahun atau bahkan semasa hidup, yang demikian ini adalah haram atau bahkan kufur karena beberapa sisi pandang yang tidak samar.” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz.2, halaman 457)

Mengomentari statemen di atas, Syekh al-Syarwani mengatakan:

ู‚ูˆู„ู‡ ( ูˆุฐู„ูƒ ) ุฃูŠ ุงู„ุฒุนู… ุงู„ู…ุฐูƒูˆุฑ ู‚ูˆู„ู‡ ( ู„ูˆุฌูˆู‡ ุฅู„ุฎ ) ู…ู†ู‡ุง ุฅุณู‚ุงุท ุงู„ู‚ุถุงุก ูˆู‡ูˆ ู…ุฎุงู„ู ู„ู„ู…ุฐุงู‡ุจ ูƒู„ู‡ุง ูƒุฑุฏูŠ
“Ucapan Syekh Ibnu Hajar, yang demikian ini adalah haram atau bahkan kufur karena beberapa sisi pandang yang tidak samar, di antaranya adalah dapat menggugurkan kewajiban mengqadha shalat, hal ini menyalahi seluruh mazhab-mazhab.” (Syekh Abdul Hamid al-Syarwani, Hasyiyah al-Syarwani ‘ala al-Tuhfah, juz.2, halaman 457)

Keempat, hadits tentang shalat kafarat tidak dapat dibuat dalil, karena tidak memiliki sanad yang jelas.

Kesimpulan

Kesimpulan ikhtilaf mengenai hukum shalat kafarat terangkum dalam statemen Mufti Syekh Salim bin Said Bukair al-Hadlrami yang dikutip Kasyf al-Khafa’ sebagai berikut:

ู…ุง ู‚ูˆู„ูƒู… ููŠ ุตู„ุงุฉ ุงู„ุฎู…ุณุฉ ุงู„ูุฑูˆุถ ุงู„ุชูŠ ุชุตู„ู‰ ุขุฎุฑ ุฌู…ุนุฉ ู…ู† ุฑู…ุถุงู† ู‡ู„ ู‡ูŠ ุฌุงุฆุฒุฉ ุดุฑุนุง ุฃู… ู„ุง؟ ูˆู‡ู„ ุฃุญุฏ ู†ุต ุนู„ูŠู‡ุง ู…ู† ุงู„ุนู„ู…ุงุก ูˆูุนู„ู‡ุง ุบูŠุฑ ุงู„ุดูŠุฎ ุฃุจูˆ ุจูƒุฑ ูˆุฃูˆู„ุงุฏู‡ ุฃููŠุฏูˆู†ุง؟! ุงู„ุฌูˆุงุจ ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุตู„ุงุฉ ุงู„ูุฑูˆุถ ุขุฎุฑ ุฌู…ุนุฉ ู…ู† ุฑู…ุถุงู† ู‚ุถุงุก ููˆุงุฆุช ู„ูŠุณ ุนู„ู‰ ูŠู‚ูŠู† ู…ู†ู‡ุง، ูˆุชุณู…ู‰ ุตู„ุงุฉ ุงู„ุจุฑุงุกุฉ، ุงุฎุชู„ู ุงู„ุนู„ู…ุงุก ููŠู‡ุง، ูู‚ุงู„ ุจุชุญุฑูŠู…ู‡ุง ุฌู…ุงุนุฉ ูƒุงู„ุดูŠุฎ ุงุจู† ุญุฌุฑ ูˆุจุงู…ุฎุฑู…ุฉ ูˆุบูŠุฑู‡ู…ุง. ูˆู‚ุงู„ ุจุฌูˆุงุฒู‡ุง ูƒุซูŠุฑ ู…ู† ุนู„ู…ุงุก ุงู„ูŠู…ู†، ูˆูƒุงู†ุช ุชุตู„ู‰ ุจุฌุงู…ุน ุฒุจูŠุฏ ูƒู…ุง ู‚ุงู„ ุงู„ู†ุงุดุฑูŠ، ู‚ุงู„ ูˆู„ุง ูŠุชุฑูƒู‡ุง ุฅู„ุง ุงู„ู‚ู„ูŠู„ ุงู†ุชู‡ู‰. ูˆู‡ูŠ ู…ุญุท ุฑุฌุงู„ ุงู„ุนู„ู… ูˆุฃุฆู…ุฉ ุงู„ูุชูˆู‰ ูˆู‚ุฏ ุตู„ุงู‡ุง ุฌู…ุงุนุฉ ู…ู† ุงู„ุฃุฆู…ุฉ ุงู„ูˆุฑุนูŠู† ุงู„ุจุงุฑุนูŠู† ููŠ ุนู„ู…ูŠ ุงู„ุธุงู‡ุฑ ูˆุงู„ุจุงุทู† ูƒุงู„ูุฎุฑ ุงู„ุดูŠุฎ ุฃุจูŠ ุจูƒุฑ ุจู† ุณุงู„ู… ูˆุงู„ุฅู…ุงู… ุงู„ุนู„ุงู…ุฉ ุฃุญู…ุฏ ุจู† ุฒูŠู† ุงู„ุญุจุดูŠ ูˆุงู„ุฅู…ุงู… ุงู„ุญุจูŠุจ ุนู…ุฑ ุจู† ุฒูŠู† ุจู† ุณู…ูŠุท ูˆุงู„ุญุจูŠุจ ุงู„ุนู„ุงู…ุฉ ุฃุญู…ุฏ ุจู† ู…ุญู…ุฏ ุงู„ู…ุญุถุงุฑ ูˆุงู„ุนู„ุงู…ุฉ ุงู„ุญุจูŠุจ ุฃุญู…ุฏ ุจู† ุญุณู† ุงู„ุนุทุงุณ ูˆุงู„ุญุจูŠุจ ุงู„ุนู„ุงู…ุฉ ุณุงู„ู… ุจู† ุญููŠุธ ุจู† ุงู„ุดูŠุฎ ุจู† ุฃุจูŠ ุจูƒุฑ ุจู† ุณุงู„ู… ูˆุงู„ุญุจูŠุจ ุงู„ุนู„ุงู…ุฉ ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ุฑุญู…ู† ุจู† ุงู„ุดูŠุฎ ุฃุจูŠ ุจูƒุฑ ุจู† ุณุงู„ู… ูˆุบูŠุฑู‡ู… ู…ู† ุนู„ู…ุงุก ุงู„ูŠู…ู† ูˆุญุถุฑ ู…ูˆุช.
“Bagaimana pendapat anda tentang shalat lima waktu yang dilakukan di ahir Jumat Ramadhan, boleh atau tidak? Apakah ada salah seorang ulama yang membolehkannya dan mengamalkannya selain Syekh Abu Bakr bin Salim dan anak-anaknya?.

Jawaban, segala puji bagi Allah, shalat fardlu lima waktu di akhir Jumat bulan Ramadhan merupakan shalat untuk mengqadha shalat fardlu yang tidak diyakini ditinggalkan, shalat ini disebut dengan shalat bara’ah, ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya. Segolongan ulama seperti Syekh Ibnu Hajar, Syekh Bamakhramah dan lainnya mengharamkan. Dan mayoritas ulama Yaman membolehkannya, shalat ini dilakukan di masjid Jami’ Zabid seperti yang dikatakan imam al-Nasyiri, beliau mengatakan, tidak meninggalkan shalat ini kecuali segelintir orang. Shalat bara’ah ini adalah amaliyyah para tokoh ilmu dan imam-imam fatwa, shalat ini dilakukan oleh para imam yang wira’i, yang menonjol dalam ilmu zhahir dan batin, seperti al-Fakhr Syekh Abu Bakr bin Salim, al-‘Allamah Ahmad bin Zain al-Habsyi, Habib Umar bin Zain bin Smith, Habib Ahmad bin Muhammad al-Mihdlar dan ulama Hadlramaut yang lain.”

ูู‚ุฏ ุฃู‚ุงู…ู‡ุง ูƒู„ ู…ู† ุงู„ู…ุฐูƒูˆุฑูŠู† ููŠ ุฌู‡ุงุชู‡ู… ูˆุจู„ุฏุงู†ู‡ู… ูˆุฃู…ุฑ ุจู‡ุง ูˆุฃู‚ุฑู‡ุง ุงู„ุฅู…ุงู… ุงู„ุญุฌุฉ ุงู„ุญุจูŠุจ ุนุจุฏ ุงู„ุฑุญู…ู† ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู„ูู‚ูŠู‡ ูˆู‡ูˆ ุงู„ุฐูŠ ูƒุงู† ูŠู„ู‚ุจู‡ ุงู„ุฅู…ุงู… ุงู„ุญุจูŠุจ ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุญุฏุงุฏ ุจู€ "ุนู„ุงู…ุฉ ุงู„ุฏู†ูŠุง"...ุฅู„ู‰ ุฃู† ู‚ุงู„.... ูˆูƒูู‰ ุจู‡ุฐุง ุงู„ุฅู…ุงู… ูˆุจู…ู† ุชู‚ุฏู… ุฐูƒุฑู‡ู… ู…ู† ุฃุฆู…ุฉ ุงู„ุฏูŠู† ูˆุงู„ุนู„ู…ุงุก ุงู„ูˆุฑุนูŠู† ุญุฌุฉ ููŠ ุฌูˆุงุฒ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุตู„ุงุฉ ، ูˆุฅุฐุง ู„ู… ุชู‚ู… ุจู‡ู… ูˆุจุฃู…ุซุงู„ู‡ู… ุงู„ุญุฌุฉ ููŠู…ู† ุชู‚ูˆู… ุงู„ุญุฌุฉ؟.
“Mereka-mereka ini melakukan shalat bara’ah di daerah-daerahnya dan memerintahkan orang untuk melakukannya, kebolehan shalat ini juga diamini oleh Habib Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih yang dijuluki oleh Habib Abdullah al-Haddad dengan “orang sangat alim di dunia.” Cukuplah imam ini dan imam-imam lain yang disebutkan sebelumnya dari para imam agama dan ulama yang wira’i, dijadikan sebagai hujjah kebolehan shalat bara’ah, bila tida bisa, lantas siapa lagi ulama yang bisa dijadikan hujjah?

ูˆู‚ุฏ ู‚ุงู„ ุจุฌูˆุงุฒ ุงู„ู‚ุถุงุก ู…ุน ุงู„ุดูƒ ุงู„ู‚ุงุถูŠ ุญุณูŠู† ูˆุงู„ุบุฒูŠ ูƒู…ุง ููŠ ุงู„ุฌู…ู„ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ู†ู‡ุฌ ูˆุงู„ุฅู…ุงู… ุงู„ุบุฒุงู„ูŠ ููŠ ุงู„ุฅุญูŠุงุก ูˆููŠ ุฐู„ูƒ ุฃุนุธู… ุฏู„ูŠู„ ูˆุฃู‚ูˆู‰ ุญุฌุฉ ู„ู…ุง ู‚ุงู„ู‡ ูˆุนู…ู„ู‡ ู‡ุคู„ุงุก ุงู„ุฃุฆู…ุฉ ุจู„ ู„ูˆ ู„ู… ูŠู‚ู„ ุจุฌูˆุงุฒ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆูŠูุนู„ู‡ุง ุฅู„ุง ุงู„ุดูŠุฎ ุฃุจูˆ ุจูƒุฑ ุจู† ุณุงู„ู… ู‚ูˆู„ู‡ ูˆูุนู„ู‡ ูƒู…ุง ููŠ ุงู„ุญุฌุฉ ูุฅู†ู‡ ู…ู† ูƒุจุงุฑ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ูˆุฃุฆู…ุฉ ุงู„ุฏูŠู†
“Al-Qadli Husain dan al-Ghuzzi membolehkan shalat qadha beserta keraguan seperti dalam Hasyiyah al-Jamal dan al-Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’, ini adalah dalil dan hujjah terkuat dari apa yang dikatakan dan diamalkan imam-imam yang tersebut di atas. Bahkan, andai saja yang membolehkan dan melakukan shalat ini hanya Syekh Abu Bakr bin Salim, maka sudah cukup, sesungguhnya beliau tergolong pembesar ulama dan imam-imam agama.” (Syekh Fadl bin Abdurrahman al-Tarimi al-Hadlrami, Kasyf al-Khafa’ wa al-Khilaf fi hukmi shalat al-Bara’ah min al-Ikhtilaf, halaman 37)

Demikian penjelasan mengenai ikhtilaf ulama tentang shalat kafarat atau shalat bara’ah, semoga bisa saling menghargai atas perbedaan tersebut, karena keduanya sama-sama memiliki argumen yang dapat dipertanggungjawabkan. Yang perlu ditegaskan adalah, keyakinan bahwa shalat kafarat diyakini sebagai pengganti shalat fardlu yang ditinggalkan selama satu tahun, sama sekali tidak dibenarkan, sebab kewajiban bagi orang yang meninggalkan shalat, baik sengaja atau lupa, adalah mengqadhanya satu persatu, ulama tidak ikhtilaf dalam hal ini. Shalat kafarat dimaksudkan sebagai langkah antisipasi (ihtiyath) saja. Wallahu a‘lam.

Baca Juga : Tata Cara Sholat Kafarot

Sumber : https://islam.nu.or.id/post/read/91683/hukum-shalat-kafarat-di-jumat-akhir-ramadhan
Pengalaman adalah Guru Terbaik. Oleh sebab itu, kita pasti bisa kalau kita terbiasa. Bukan karena kita luar biasa. Setinggi apa belajar kita, tidahlah menjadi jaminan kepuasan jiwa, yang paling utam…

Posting Komentar

Pergunakanlah kecerdasan anda saat berkomentar, dan tinggalkan komentar sesuai topik tulisan, menuliskan link aktif yang tidak sesuai topik yang kami posting akan langsung kami hapus atau kami anggap sebagai spam.
Masukkan URL Gambar atau URL Video atau Potongan Kode atau Quote lalu klik tombol yang kamu inginkan untuk di-parse. Salin hasil parse lalu paste ke kolom komentar.


image video quote pre code