Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Bergabunglah di Grup WhatsApp PTS, ikuti Program Tadarus setiap periode 15 hari Bergabung

4 Sumber Hukum dalam ASWAJA

4 Sumber Hukum dalam ASWAJA
4 Sumber Hukum dalam ASWAJA

Di dalam menentukan hukum fiqih, madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) bersumber kepada empat pokok; Al-Qur’an, Hadits/as-Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Secara singkat, paparannya sebagai berikut;

1. Al-Qur’an
Al-Qur’an merupakan sumber utama dan pertama dalam pengambilan hukum. Karena Al-Qur’an adalah perkataan Allah yang merupakan petunjuk kepada ummat manusia dan diwajibkan untuk berpegangan kepada Al-Qur’an. Allah berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 2; Al-Maidah Ayat 44-45, 47 :
ุฐู„ِูƒَ ุงْู„ูƒِุชَุจَ ู„ุงَุฑَูŠْุจَ ูِูŠْู‡ِ ู‡ُุฏًู‰ ู„ِู„ْู…ُุชَّู‚ِูŠْู†َ
Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”. (Al-Baqarah; 2)

ูˆَู…َู†ْ ู„َู…ْ ูŠَุญْูƒُู…ْ ุจِู…َุง ุฃَู†ْุฒَู„َ ุงู„ู„ู‡ُ ูَุฃُูˆْู„ุฆِูƒَ ู‡ُู…ُ ุงْู„ูƒูِุฑُูˆْู†َ
Dan barang siapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah golongan orang-orang kafir”.

Tentu dalam hal ini yang bersangkutan dengan aqidah, lalu;
ูˆَู…َู†ْ ู„َู…ْ ูŠَุญْูƒُู…ْ ุจِู…َุง ุฃَู†ْุฒَู„َ ุงู„ู„ู‡ُ ูَุฃُูˆْู„ุฆِูƒَ ู‡ُู…ُ ุงู„ุธّู„ِู…ُูˆْู†َ
Dan barang siapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka adalah orang-orang yang dhalim”.

Dalam hal ini urusan yang berkenaan dengan hak-hak sesama manusia
ูˆَู…َู†ْ ู„َู…ْ ูŠَุญْูƒُู…ْ ุจِู…َุง ุฃَู†ْุฒَู„َ ุงู„ู„ู‡ُ ูَุฃُูˆْู„ุฆِูƒَ ู‡ُู…ُ ุงْู„ูุณِู‚ُูˆْู† َ
Dan barang siapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka adalah golongan orang-orang fasik”.

Dalam hal ini yang berkenaan dengan ibadat dan larangan-larangan Allah.

2. Al-Hadits/Sunnah
Sumber kedua dalam menentukan hukum ialah sunnah Rasulullah ٍSAW. Karena Rasulullah yang berhak menjelaskan dan menafsirkan Al-Qur’an, maka As-Sunnah menduduki tempat kedua setelah Al-Qur’an. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat an-Nahl ayat 44 dan al-Hasyr ayat 7, sebagai berikut;
ูˆَุงَู†ْุฒَู„ْู†َุง ุงِู„َูŠْูƒَ ุงู„ุฐِูƒْุฑَ ู„ِุชُุจَูŠِู†َ ู„ِู„ู†َّุงุณِ ู…َุงู†ُุฒِู„َ ุงِู„َูŠْู‡ِู…ْ ูˆَู„َุนَู„َّู‡ُู…ْ ูŠَุชَูَูƒَّุฑُูˆْู†َ
Dan kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan”. (An-Nahl : 44)

ูˆَู…َุงุกَุงุชَูƒُู…ُ ุงู„ุฑَّุณُูˆْู„ُ ูَุฎُุฐُูˆْู‡ُ ูˆَู…َุงู†َู‡ูƒُู…ْ ุนَู†ْู‡ُ ูَุงู†ْุชَู‡َูˆْุงูˆَุงุชَّู‚ُูˆْุงุงู„ู„ู‡َ, ุงِู†َّ ุงู„ู„ู‡َ ุดَุฏِูŠْุฏُุงْู„ุนِู‚َุงุจِ
Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka ambillah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat keras sikapnya”. (Al-Hasyr: 7)

Kedua ayat tersebut di atas jelas bahwa Hadits atau Sunnah menduduki tempat kedua setelah Al-Qur’an dalam menentukan hukum.

3. Al-Ijma’
Yang disebut Ijma’ ialah kesepakatan para Ulama’ atas suatu hukum setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Karena pada masa hidupnya Nabi Muhammad SAW seluruh persoalan hukum kembali kepada Beliau. Setelah wafatnya Nabi maka hukum dikembalikan kepada para sahabatnya dan para Mujtahid.

Kemudian ijma’ ada 2 macam :
1. Ijma’ Bayani (ุงู„ุงุฌู…ุงุน ุงู„ุจูŠุงู†ูŠ ) ialah apabila semua Mujtahid mengeluarkan pendapatnya baik berbentuk perkataan maupun tulisan yang menunjukan kesepakatannya.
2. Ijma’ Sukuti (ุงู„ุงุฌู…ุงุน ุงู„ุณูƒูˆุชูŠ) ialah apabila sebagian Mujtahid mengeluarkan pendapatnya dan sebagian yang lain diam, sedang diamnya menunjukan setuju, bukan karena takut atau malu.


Dalam ijma’ sukuti ini Ulama’ masih berselisih faham untuk diikuti, karena setuju dengan sikap diam tidak dapat dipastikan. Adapun ijma’ bayani telah disepakati suatu hukum, wajib bagi ummat Islam untuk mengikuti dan menta’ati.

Karena para Ulama’ Mujtahid itu termasuk orang-orang yang lebih mengerti dalam maksud yang dikandung oleh Al-Qur’an dan Al-Hadits, dan mereka itulah yang disebut Ulil Amri Minkum (ุงูˆู„ู‰ุงู„ุงู…ุฑ ู…ู†ูƒู…  ) Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat : 59
ูŠุงุฃَูŠُّู‡َุงุงู„َّุฐِูŠْู†َ ุฃَู…َู†ُูˆْุงุฃَุทِูŠْุนُูˆْุงุงู„ู„ู‡َ ูˆَุฃَุทِูŠْุนُูˆْุงุงู„ุฑَّุณُูˆْู„َ ูˆَุฃُูˆْู„ِู‰ ุงْู„ุฃَู…ْุฑِ ู…ِู†ْูƒُู…ْ
“Hai orang yang beriman ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul-Nya dan Ulil Amri di antara kamu”.

Dan para Sahabat pernah melaksanakan ijma’ apabila terjadi suatu masalah yang tidak ada dalam Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah S.A.W. Pada zaman sahabat Abu Bakar dan sahabat Umar r.a jika mereka sudah sepakat maka wajib diikuti oleh seluruh ummat Islam. Inilah beberapa Hadits yang memperkuat Ijma’ sebagai sumber hokum, seperti disebut dalam Sunan Termidzi Juz IV hal 466.

ุงِู†َّ ุงู„ู„ู‡َ ู„ุงَ ูŠَุฌْู…َุนُ ุงُู…َّุชู‰ِ ุนَู„ู‰َ ุถَู„ุงَ ู„َุฉٍ, ูˆَูŠَุฏُุงู„ู„ู‡ِ ู…َุนَ ุงْู„َุฌَู…ุงุนَุฉِ
Sesungguhnya Allah tidak menghimpun ummatku atas kesesatan dan perlindungan Allah beserta orang banyak.

Selanjutnya, dalam kitab Faidlul Qadir Juz 2 hal 431
ุงِู†َّ ุงُู…َّุชู‰ِ ู„ุงَุชَุฌْุชَู…ِุนُ ุนَู„ู‰َ ุถَู„ุงَ ู„َุฉٍ ูَุงุกِุฐَุงุฑَุฃَูŠْุชُู…ُ ุงุฎْุชِู„ุงَ ูًุง ูَุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ุจِุงู„ุณَّูˆَุงุฏِุงْ ู„ุฃَุนْุธَู…ِ.
 “Sesungguhnya ummatku tidak berkumpul atas kesesatan maka apabila engkau melihat perselisihan, maka hendaknya engkau berpihak kepada golongan yang terbanyak”.

4. Al-Qiyas
Qiyas menurut bahasanya berarti mengukur, secara etimologi kata itu berasal dari kata Qasa (ู‚ุง ุณ  ). Yang disebut Qiyas ialah menyamakan sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam hukum karena adanya sebab yang antara keduanya. Rukun Qiyas ada 4 macam: al-ashlu, al-far’u, al-hukmu dan as-sabab. Contoh penggunaan qiyas, misalnya gandum, seperti disebutkan dalam suatu hadits sebagai yang pokok (al-ashlu)-nya, lalu al-far’u-nya adalah beras (tidak tercantum dalam al-Qur’an dan al-Hadits), al-hukmu, atau hukum gandum itu wajib zakatnya, as-sabab atau alasan hukumnya karena makanan pokok.

Dengan demikian, hasil gandum itu wajib dikeluarkan zakatnya, sesuai dengan hadits Nabi, dan begitupun dengan beras, wajib dikeluarkan zakat. Meskipun, dalam hadits tidak dicantumkan nama beras. Tetapi, karena beras dan gandum itu kedua-duanya sebagai makanan pokok. Di sinilah aspek qiyas menjadi sumber hukum dalam syareat Islam. Dalam Al-Qur’an Allah S.WT. berfirman :
ูَุงุนْุชَุจِุฑُูˆْุง ูŠุฃُูˆْู„ِู‰ ุงْู„ุฃَูŠْุตَุงุฑِ
Ambilah ibarat (pelajaran dari kejadian itu) hai orang-orang yang mempunyai pandangan”. (Al-Hasyr : 2)

ุนَู†ْ ู…ُุนَุงุฐٍ ู‚َุงู„َ : ู„َู…َุง ุจَุนَุซَู‡ُ ุงู„ู†َّุจِู‰ُّ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุงِู„ู‰َ ุงْู„ูŠَู…َู†ِู‰ ู‚َุงู„َ: ูƒَูŠْูَ ุชَู‚ْุถِู‰ ุงِุฐَุง ุนَุฑَุถَ ู‚َุถَุงุกٌ ؟ ู‚َุงู„َ ุงَู‚ْุถِู‰ ุจِูƒَุชَุงุจِ ุงู„ู„ู‡ِ ู‚َุงู„َ ูَุงุกِู†ْ ู„َู…ْ ุชَุฌِุฏْ ูِู‰ ูƒِุชَุงุจِ ุงู„ู„ู‡ِ ؟ ู‚َุงู„َ ูَุจِุณُู†َّุฉِ ุฑَุณُูˆْู„ِ ุงู„ู„ู‡ِ, ู‚َุงู„َ ูَุงุกِู†ْ ู„َู…ْ ุชَุฌِุฏْ ูِู‰ ุณُู†َّุฉِ ุฑَุณُูˆْู„ِ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆَู„ุงَ ูู‰ِ ูƒِุชَุงุจِ ุงู„ู„ู‡ِ ؟ ู‚َุงู„َ ุงَุฌْุชَู‡ِุฏُ ุจِุฑَุฃْูŠِู‰ ูˆَู„ุงَ ุงู„ُูˆْ ู‚َุงู„َ ูَุถَุฑَุจَ ุฑَุณُูˆْู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุตَุฏْุฑَู‡ُ ูˆَู‚َุงู„َ ุงْู„ุญَู…ْุฏُ ู„ู„ู‡ِ ุงู„َّุฐِู‰ ูˆَูَّู‚َ ุฑَุณُูˆْู„َ ุฑَุณُูˆْู„ِ ุงู„ู„ู‡ِ ู„ِู…َุง ูŠَุฑْุถَุงู‡ُ ุฑَุณُูˆْู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ. ุฑูˆุงู‡ ุฃุญู…ุฏ ูˆุงุจูˆ ุฏุงูˆุฏ ูˆุงู„ุชุฑู…ุฐู‰.
Dari sahabat Mu’adz berkata; tatkala Rasulullah SAW mengutus ke Yaman, Rasulullah bersabda bagaimana engkau menentukan apabila tampak kepadamu suatu ketentuan? Mu’adz menjawab; saya akan menentukan hukum dengan kitab Allah? Mu’adz menjawab; dengan Sunnah Rasulullah s.aw. kemudian nabi bersabda; kalau tidak engkau jumpai dalam Sunnah Rasulullah dan dalam kitab Allah? Mu’adz menjawab; saya akan berijtihad dengan pendapat saya dan saya tidak kembali; Mu’adz berkata: maka Rasulullah memukul dadanya, kemudian Mu’adz berkata; Alhamdulillah yang telah memberikan taufiq kepada utusan Rasulullah SAW dengan apa yang Rasulullah meridlai-Nya.

Kemudian Al-Imam Syafi’i memperkuat pula tentang qiyas dengan firman Allah S.W.T dalam Al-Qur’an :
ูŠุงุฃَูŠُّู‡َุงุงَّู„ุฐِูŠْู†َ ุกَ ุงู…َู†ُูˆْุง ู„ุงَุชَู‚ْุชُู„ُูˆْุงุง ู„ุตَّูŠْุฏَูˆَุงَู†ْุชُู…ْ ุญُุฑُู…ٌ ูˆَู…َู†ْ ู‚َุชَู„َู‡ُ ู…ِู†ْูƒُู…ْ ู…ُุชَุนَู…ِุฏًุง ูَุฌَุฒَุงุกٌ ู…ِุซْู„ُ ู…َุง ู‚َุชَู„َ ู…ِู†َ ุงู„ู†َّุนَู…ِ ูŠَุญْูƒُู…ُ ุจِู‡ِ ุฐَูˆَุงุนَุฏْู„ٍ ู…ِู†ْูƒُู…ْ
 “Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu membunuh binatang buruan ketika kamu sedang ihram, barang siapa diantara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak yang seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu”. (Al-Maidah: 95).

Sebagaimana madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah lebih mendahulukan dalil Al-Qur’an dan Al-Hadits dari pada akal. Maka dari itu madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah mempergunakan Ijma’ dan Qiyas kalau tidak mendapatkan dalil nash yang shareh (jelas) dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

KH A Nuril Huda
Ketua PP Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU)
Pengalaman adalah Guru Terbaik. Oleh sebab itu, kita pasti bisa kalau kita terbiasa. Bukan karena kita luar biasa. Setinggi apa belajar kita, tidahlah menjadi jaminan kepuasan jiwa, yang paling utam…

Posting Komentar

Pergunakanlah kecerdasan anda saat berkomentar, dan tinggalkan komentar sesuai topik tulisan, menuliskan link aktif yang tidak sesuai topik yang kami posting akan langsung kami hapus atau kami anggap sebagai spam.
Masukkan URL Gambar atau URL Video atau Potongan Kode atau Quote lalu klik tombol yang kamu inginkan untuk di-parse. Salin hasil parse lalu paste ke kolom komentar.


image video quote pre code