Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Bergabunglah di Grup WhatsApp PTS, ikuti Program Tadarus setiap periode 15 hari Bergabung

Panduan Ringkas Shalat Gerhana

Panduan Ringkas Shalat Gerhana
Panduan Ringkas Shalat Gerhana

Pengertian Gerhana

Dalam literatur fiqh gerhana disebut Kusuf (ูƒุณูˆู) dan Khusuf (ุฎุณูˆู). Kedua kata tersebut bermakna sama, yakni gerhana. Namun kalangan Fuqaha’ memakai lafadz Kusuf (ูƒุณูˆู) untuk gerhana matahari (ูƒุณูˆู ุงู„ุดู…ุณ) dan lafadz Khusuf untuk gerhana rembulan (ุฎุณูˆู ุงู„ู‚ู…ุฑ).

Dalam istilah Fuqaha’ Kusuf adalah peristiwa hilangnya sinar matahari baik sebagian atau keseluruhan pada siang hari karena terhalang posisi rembulan yang melintas di antara matahari dan bumi. Sedangkan Khusuf adalah peristiwa hilangnya sinar rembulan baik sebagian atau keseluruhan karena terhalang bayangan bumi yang berada diantara matahari dan rembulan.

Hukum Shalat Gerhana

Para ulama fikih sepakat bahwa hukum shalat gerhana matahari/rembulan adalah sunnah mu’akkadah.

Dalil Alquran surat Fushshilat ayat 37

ูˆَู…ِู†ْ ุขูŠَุงุชِู‡ِ ุงู„ู„َّูŠْู„ُ ูˆَุงู„ู†َّู‡َุงุฑُ ูˆَุงู„ุดَّู…ْุณُ ูˆَุงู„ْู‚َู…َุฑُ ู„َุง ุชَุณْุฌُุฏُูˆุง ู„ِู„ุดَّู…ْุณِ ูˆَู„َุง ู„ِู„ْู‚َู…َุฑِ ูˆَุงุณْุฌُุฏُูˆุง ู„ِู„َّู‡ِ ุงู„َّุฐِูŠ ุฎَู„َู‚َู‡ُู†َّ ุฅِู†ْ ูƒُู†ْุชُู…ْ ุฅِูŠَّุงู‡ُ ุชَุนْุจُุฏُูˆู†َ
“Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya jika kamu hanya menyembah kepada-Nya”

Dalil Hadits

ุนَู†ِ ุงู„ْู…ُุบِูŠْุฑَุฉِ ุจْู†ِ ุดُุนْุจَุฉَ ู‚َุงู„َ: ูƒَุณَูَุชِ ุงู„ุดَّู…ْุณُ ุนَู„َู‰ ุนَู‡ْุฏِ ุฑَุณُูˆู„ِ ุงู„ู„ู‡ِ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠَูˆْู…َ ู…َุงุชَ ุฅِุจْุฑَู‡ِูŠْู…ُ ูَู‚َุงู„َ ุงู„ู†َّุงุณُ ูƒَุณَูَุชِ ุงู„ุดَّู…ْุณُ ู„ِู…َูˆْุชِ ุฅِุจْุฑَุงู‡ِูŠْู…َ ูَู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฅِู†َّ ุงู„ุดَّู…ْุณَ ูˆَุงู„ْู‚َู…َุฑَ ู„ุงَ ูŠَู†ْูƒَุณِูَุงู†ِ ู„ِู…َูˆْุชِ ุฃَุญَุฏٍ ูˆَู„ุงَ ู„ِุญَูŠَุงุชِู‡ِ ูَุฅِุฐَุง ุฑَุฃَูŠْุชُู…ْ ูَุตَู„ُّูˆุง ูˆَุงุฏْุนُูˆุง ุงู„ู„ู‡َ
Dari Al-Mughirah bin Syu’bah telah berkata : Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Saw pada wafatnya Ibrahim (putra Nabi Saw). Kemudian orang-orang berkata : “Telah terjadi gerhana matahari karena wafatnya Ibrahim". Maka Rasulullah Saw bersabda : “Sesungguhnya matahari dan bulan tidak akan terjadi gerhana karena kematian seseorang dan tidak karena kelahiran seseorang, apabila kalian melihat maka shalatlah dan berdoalah kepada Allah". (Muttafaq ‘alaih)

Aqwal Ulama

ุงู„ูู‚ู‡ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠ ูˆุฃุฏู„ุชู‡ (2/ 545)
ุตู„ุงุฉ ุงู„ูƒุณูˆู ูˆุงู„ุฎุณูˆู ุณู†ุฉ ุซุงุจุชุฉ ู…ุคูƒุฏุฉ ุจุงุชูุงู‚ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก
“(Hukum) shalat gerhana matahari dan shalat gerhana rembulan adalah sunnah mu’akkadah dengan kesepakatan para ahli fikih" (al-Fiqh al-Islami 2/545)

ูˆุงู„ู‚ุณู… ุงู„ุซุงู†ูŠ ู…ุง ุชุณู† ููŠู‡ ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ…. ุฅู„ู‰ ุฃู† ู‚ุงู„ ….. (ูˆ) ุตู„ุงุฉ (ุงู„ูƒุณูˆููŠู†) ุฃู‰ ูƒุณูˆู ุงู„ุดู…ุณ ูˆุงู„ู‚ู…ุฑ.
(ุฅุนุงู†ุฉ ุงู„ุทุงู„ุจูŠู† 1/301)
“Bagian kedua dari pembagian shalat sunnah adalah shalat sunnah yang disunnahkan dilakukan secara berjamaah …… dan shalat dua gerhana, yakni shalat gerhana matahari dan shalat gerhana rembulan“ (I’anah al-Thalibin 1/301)

Tata Cara Melakukan Shalat Gerhana

Waktu

Waktu pelaksanaan shalat gerhana sejak terjadi gerhana hingga matahari/rembulan muncul kembali. Apabila matahari/rembulan sudah muncul kembali maka waktu pelaksanaan shalat gerhana sudah habis dan tidak disunnahkan qadla’.

Mandi

Disunnahkan mandi sebelum melakukan shalat gerhana sebagaimana shalat jum’ah dan shalat ied.

Berjamaah

Disunnahkan melakukan shalat gerhana secara berjamaah di Masjid.

Adzan

Tidak disunnahkan adzan dan iqamah, tetapi mengumandangkan kalimat : ุงู„ุตู„ุงุฉ ุฌุงู…ุนุฉ (as-shalaatu jaami’ah) sesaat sebelum melakukan shalat gerhana.

Rakaat

Jumlah rakaat shalat gerhana adalah 2 (dua) rakaat. Setiap rakaat terdapat 2 (dua) kali berdiri dan 2 (dua) kali ruku’. Ketika berdiri terdapat 2 (dua) kali membaca fatihah dan 2 (dua) kali membaca surat.

Jahr/Israr

Dalam shalat gerhana matahari disunnahkan memelankan bacaan (israr) sebagaimana shalat yang dikerjakan pada siang hari, sedangkan dalam shalat gerhana rembulan disunnahkan mengeraskan bacaan (jahr).

Khutbah

Disunnahkan melakukan 2 (dua) khutbah setelah shalat gerhana sebagaimana khutbah shalat jum’ah dan khutbah ied dalam rukun-rukunnya.

Kesunahan Lain

Disunnahkan memperbanyak dzikir, doa, istighfar dan sedekah.

Teknis melakukan shalat gerhana

Teknis shalat gerhana berikut ini berdasarkan pendapat Jumhur (mayoritas) ulama.
  1. Niat shalat sunnah gerhana berbarengan dengan takbiratul ihram
    ุฃُุตَู„ِّู‰ ุณُู†َّุฉَ ูƒُุณُูˆูِ ุงู„ุดَّู…ْุณِ / ุณُู†َّุฉَ ุฎُุณُูˆْูِ ุงู„ู‚َู…َุฑِ ุฑَูƒْุนَุชَูŠْู†ِ ู…َุฃْู…ُูˆْู…ًุง / ุฅِู…َุงู…ًุง ู„ِู„ู‡ ุชุนَุงู„ู‰
  2. Membaca doa iftitah
    ุงَู„ู„ู‡ُ ุงَูƒْุจَุฑْ ูƒَุจِูŠْุฑًุง ูˆَุงู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ู„ู‡ِ ูƒَุซِูŠْุฑً ูˆَุณُุจْุญَุงู†َ ุงู„ู„ู‡ِ ุจُูƒْุฑَุฉً ูˆَุฃَุตِูŠْู„ุงً. ุฅู†ِّู‰ ูˆَุฌَّู‡ْุชُ ูˆَุฌْู‡ِูŠَ ู„ู„ุฐِูŠْ ูَุทَุฑَุงู„ุณَّู…َูˆَุงุชِ ูˆَุงْู„ุขَุฑْุถَ ุญَู†ِูŠِูŠْูًุง ู…ُุณْู„ِู…ًุง ูˆَู…َุง ุฃَู†َุง ู…ِู†َ ุงู„ْู…ُุดْุฑِูƒِูŠْู†َ. ุฅِู†َّ ุตَู„ุงَุชِูŠْ ูˆَู†ُุณُูƒِูŠْ ูˆَู…ْุญْูŠَุงูŠَ ูˆَู…َู…َุงุชِูŠْ ู„ู„ู‡ِ ุฑَุจِّ ุงู„ْุนَุงู„َู…ِูŠْู†َ ู„ุงَุดَุฑِูŠْูƒَ ู„َู‡ُ ูˆَุจِุฐَู„ِูƒَ ุฃُู…ِุฑْุชُ ูˆَุฃَู†َุง ู…ِู†َ ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ
  3. Membaca surat al-fatihah
  4. Membaca surah. Jika mampu membaca surat panjang, seperti surat al-Baqarah atau surat lain yang panjangnya sama dengan surat al-Baqarah. Jika tidak mampu maka membaca surat pendek.
  5. Ruku’ pertama pada berdiri pertama. Jika mampu ruku’ pertama pada berdiri pertama dilakukan secara panjang dengan mengulang-ulang bacaan tasbih kadar 100 ayat dari surat al-Baqarah.
  6. Kembali berdiri untuk membaca surat al-fatihah yang kedua
  7. Membaca surah. Jika mampu membaca surat panjang seperti surat Ali Imron atau surat lain yang panjangnya sama dengan surat Ali Imron. Jika tidak mampu maka membaca surat pendek.
  8. Ruku’ kedua pada berdiri pertama. Jika mampu ruku’ kedua pada berdiri pertama dilakukan secara panjang dengan mengulang-ulang bacaan tasbih kadar 80 ayat dari surat al-Baqarah.
  9. Sujud secara panjang/lama dengan mengulang-ulang bacaan tasbih sujud
  10. Duduk diantara dua sujud
  11. Sujud kedua secara panjang/lama dengan mengulang-ulang bacaan tasbih sujud
  12. Berdiri untuk melakukan rakaat kedua
  13. Membaca surat al fatihah
  14. Membaca surah. Jika mampu membaca surat-surat panjang seperti surat an-Nisa’ atau surat lain yang panjangnya sama. Jika tidak mampu maka membaca surat pendek.
  15. Ruku’ pertama pada berdiri kedua. Jika mampu ruku’ pertama pada berdiri kedua dilakukan secara panjang dengan mengulang-ulang bacaan tasbih kadar 70 ayat dari surat al-Baqarah.
  16. Kembali berdiri untuk membaca surat al-fatihah yang kedua
  17. Membaca surah. Jika mampu membaca surat-surat panjang seperti surat al-Maidah atau surat lain yang panjangnya sama. Jika tidak mampu maka membaca surat pendek.
  18. Ruku’ kedua pada berdiri kedua. Jika mampu ruku’ kedua pada berdiri kedua dilakukan secara panjang dengan mengulang-ulang bacaan tasbih kadar 50 ayat dari surat al-Baqarah.
  19. Sujud secara panjang/lama dengan mengulang-ulang bacaan tasbih sujud.
  20. Duduk di antara dua sujud
  21. Sujud kedua secara panjang/lama dengan mengulang-ulang bacaan tasbih sujud
  22. Tahiyyat
  23. Salam

Khutbah

Disunnahkan melakukan khutbah setelah shalat gerhana dengan 2 (dua) khutbah. Adapun rukun-rukun khutbah gerhana sebagaimana rukun khutbah jumat dan khutbah ied.

Referensi

  1. Tafsir al-Qurthubi
  2. I’anah al-Thalibin
  3. Al-Fiqh al-Islami
  4. Al-Fiqh ala al –Madzahib al-Arba’ah

Disusun oleh: Lembaga Bahtsul Masail (LBM) NU Jepara 2016
Pengalaman adalah Guru Terbaik. Oleh sebab itu, kita pasti bisa kalau kita terbiasa. Bukan karena kita luar biasa. Setinggi apa belajar kita, tidahlah menjadi jaminan kepuasan jiwa, yang paling utam…

Posting Komentar

Pergunakanlah kecerdasan anda saat berkomentar, dan tinggalkan komentar sesuai topik tulisan, menuliskan link aktif yang tidak sesuai topik yang kami posting akan langsung kami hapus atau kami anggap sebagai spam.
Masukkan URL Gambar atau URL Video YouTube atau Potongan Kode , atau Quote , lalu klik tombol yang kamu inginkan untuk di-parse. Salin hasil parse lalu paste ke kolom komentar.


image video quote pre code